Senin, 12 Desember 2011
BAB 5 Kata Kemalangan
KEDUA anak itu berdiri berhadapan di
seberang pilar tempat bel tadi tergantung.
Benda itu masih bergetar walau tidak lagi
mengeluarkan suara apa pun. Mendadak mereka
mendengar suara pelan dari ujung ruangan
yang masih tidak rusak. Mereka menoleh secepat
kilat untuk melihat suara apakah itu.
Salah satu sosok berjubah—sosok yang duduk
paling jauh, wanita yang menurut Digory cantik
sekali—berdiri dari kursinya. Ketika dia berdiri,
mereka menyadari wanita itu lebih tinggi daripada
dugaan mereka. Dan kau bakal bisa
langsung melihat, bukan hanya dari mahkota
dan jubahnya, tapi dari kilatan mata juga
lekuk bibirnya, wanita ini ratu agung. Dia
melihat ke sekeliling ruangan dan kerusakan
yang terjadi di sana, lalu memandang kedua
anak itu, tapi kau tidak bakal bisa menebak
dari ekspresi wajahnya apa yang sedang dia
pikirkan, apakah dia sedang terkejut atau tidak.
Dia berjalan ke depan dengan langkah-langkah
panjang dan cepat.
"Siapa yang telah membangunkanku? Siapa
yang telah mematahkan mantra?"
"Kurasa akulah orangnya," kata Digory.
"Kau!" kata sang ratu, meletakkan tangannya
di bahu Digory—tangannya putih dan indah,
tapi Digory bisa merasakan tangan itu juga
sekuat penjepit besi. "Kau? Tapi kau hanyalah
anak-anak, anak biasa. Hanya dengan pandangan
sekilas, siapa pun bisa langsung tahu
kau tidak memiliki setetes pun darah bangsawan
atau kemuliaan di nadimu. Kenapa anak
sepertimu berani memasuki rumah ini?"
"Kami datang dari dunia lain, dengan Sihir,"
kata Polly, yang berpikir sudah saatnya sang
ratu menyadari kehadirannya seperti dia menyadari
keberadaan Digory.
"Apakah ini benar?" tanya sang ratu, masih
memandangi Digory dan tidak melihat bahkan
sekilas pun ke Polly.
"Ya, itu benar," jawab Digory.
Sang ratu meletakkan tangannya yang lain
di bawah dagu Digory dan mengangkatnya
supaya bisa lebih jelas melihat wajah anak
lelaki itu. Digory berusaha balas menatap, tapi
tak lama kemudian dia harus menurunkan
pandangannya. Ada sesuatu dalam mata sang
ratu yang menguasainya. Setelah sang ratu
memerhatikan wajah Digory selama lebih dari
semenit, dia melepaskan dagu Digory dan berkata:
"Kau bukan penyihir. Tiada tanda penyihir
pada dirimu. Kau pasti hanya pelayan penyihir.
Karena Sihir lainlah kau bisa sampai di sini."
"Aku ada di sini karena pamanku, Paman
Andrew," kata Digory.
Tepat pada saat itu—bukan di ruangan tem-
pat mereka berada, tapi di suatu tempat yang
sangat dekat dari sana—terdengarlah suara runtuh
pertama, kemudian suara sesuatu retak,
lalu gemuruh bebatuan rubuh, dan lantai pun
bergetar.
"Terlalu berbahaya berada di sini," kata
sang ratu. "Seluruh tempat ini akan hancur.
Kalau kita tidak keluar dari sini sekarang,
dalam hitungan menit kita akan terkubur di
dalam reruntuhannya." Dia berbicara dengan
tenang seolah hanya sedang memberitahu jam
berapa sekarang. "Ayo," dia menambahkan
kemudian menjulurkan kedua tangannya ke
Digory dan Polly. Polly, yang tidak menyukai
sang ratu dan merasa agak merajuk, tidak
akan membiarkan tangannya diraih kalau saja
dia punya pilihan lain. Tapi walaupun sang
ratu berbicara dengan nada yang tenang, gerakannya
secepat pikiran. Sebelum Polly menyadari
apa yang sedang terjadi, tangan kirinya
telah ditangkap tangan yang jauh lebih besar
dan kuat daripada miliknya sehingga dia tidak
bisa melakukan apa-apa.
Wanita ini mengerikan sekali, pikir Polly.
Dia cukup kuat untuk mematahkan lenganku
hanya dengan satu puntiran. Dan sekarang
karena dia mencengkeram tangan kiriku, aku
tidak bisa mengambil cincin kuning. Kalau
aku berusaha menjulurkan tangan kananku ke
saku kiriku, aku mungkin bakal bisa meraihnya
sebelum dia menanyakan apa yang sedang kulakukan.
Apa pun yang terjadi kami tidak
boleh membiarkan dia tahu soal cincin-cincin
ini. Kuharap Digory masih berakal sehat dan
mampu menutup mulut. Kalau saja aku bisa
berbicara hanya berdua dengannya.
Sang ratu membimbing mereka keluar dari
Aula Sosok menuju koridor panjang kemudian
melalui labirin aula-aula lain, tangga-tangga,
dan lapangan. Lagi-lagi mereka mendengar
suatu bagian istana besar itu runtuh, terkadang
cukup dekat dengan mereka. Pernah sekali,
area besar roboh bersamaan bunyi keras hanya
beberapa saat setelah mereka berjalan melaluinya.
Sang ratu berjalan cepat—kedua anak itu
harus berlari kecil supaya bisa menyamai langkahnya—
tapi dia tidak menunjukkan tandatanda
ketakutan. Digory berpikir, dia berani
sekali. Juga kuat. Ini dia yang namanya ratu!
Mudah-mudahan dia mau menceritakan kisah
rempat ini.
Sang ratu memang memberitahu mereka beberapa
hal saat mereka berjalan:
seberang pilar tempat bel tadi tergantung.
Benda itu masih bergetar walau tidak lagi
mengeluarkan suara apa pun. Mendadak mereka
mendengar suara pelan dari ujung ruangan
yang masih tidak rusak. Mereka menoleh secepat
kilat untuk melihat suara apakah itu.
Salah satu sosok berjubah—sosok yang duduk
paling jauh, wanita yang menurut Digory cantik
sekali—berdiri dari kursinya. Ketika dia berdiri,
mereka menyadari wanita itu lebih tinggi daripada
dugaan mereka. Dan kau bakal bisa
langsung melihat, bukan hanya dari mahkota
dan jubahnya, tapi dari kilatan mata juga
lekuk bibirnya, wanita ini ratu agung. Dia
melihat ke sekeliling ruangan dan kerusakan
yang terjadi di sana, lalu memandang kedua
anak itu, tapi kau tidak bakal bisa menebak
dari ekspresi wajahnya apa yang sedang dia
pikirkan, apakah dia sedang terkejut atau tidak.
Dia berjalan ke depan dengan langkah-langkah
panjang dan cepat.
"Siapa yang telah membangunkanku? Siapa
yang telah mematahkan mantra?"
"Kurasa akulah orangnya," kata Digory.
"Kau!" kata sang ratu, meletakkan tangannya
di bahu Digory—tangannya putih dan indah,
tapi Digory bisa merasakan tangan itu juga
sekuat penjepit besi. "Kau? Tapi kau hanyalah
anak-anak, anak biasa. Hanya dengan pandangan
sekilas, siapa pun bisa langsung tahu
kau tidak memiliki setetes pun darah bangsawan
atau kemuliaan di nadimu. Kenapa anak
sepertimu berani memasuki rumah ini?"
"Kami datang dari dunia lain, dengan Sihir,"
kata Polly, yang berpikir sudah saatnya sang
ratu menyadari kehadirannya seperti dia menyadari
keberadaan Digory.
"Apakah ini benar?" tanya sang ratu, masih
memandangi Digory dan tidak melihat bahkan
sekilas pun ke Polly.
"Ya, itu benar," jawab Digory.
Sang ratu meletakkan tangannya yang lain
di bawah dagu Digory dan mengangkatnya
supaya bisa lebih jelas melihat wajah anak
lelaki itu. Digory berusaha balas menatap, tapi
tak lama kemudian dia harus menurunkan
pandangannya. Ada sesuatu dalam mata sang
ratu yang menguasainya. Setelah sang ratu
memerhatikan wajah Digory selama lebih dari
semenit, dia melepaskan dagu Digory dan berkata:
"Kau bukan penyihir. Tiada tanda penyihir
pada dirimu. Kau pasti hanya pelayan penyihir.
Karena Sihir lainlah kau bisa sampai di sini."
"Aku ada di sini karena pamanku, Paman
Andrew," kata Digory.
Tepat pada saat itu—bukan di ruangan tem-
pat mereka berada, tapi di suatu tempat yang
sangat dekat dari sana—terdengarlah suara runtuh
pertama, kemudian suara sesuatu retak,
lalu gemuruh bebatuan rubuh, dan lantai pun
bergetar.
"Terlalu berbahaya berada di sini," kata
sang ratu. "Seluruh tempat ini akan hancur.
Kalau kita tidak keluar dari sini sekarang,
dalam hitungan menit kita akan terkubur di
dalam reruntuhannya." Dia berbicara dengan
tenang seolah hanya sedang memberitahu jam
berapa sekarang. "Ayo," dia menambahkan
kemudian menjulurkan kedua tangannya ke
Digory dan Polly. Polly, yang tidak menyukai
sang ratu dan merasa agak merajuk, tidak
akan membiarkan tangannya diraih kalau saja
dia punya pilihan lain. Tapi walaupun sang
ratu berbicara dengan nada yang tenang, gerakannya
secepat pikiran. Sebelum Polly menyadari
apa yang sedang terjadi, tangan kirinya
telah ditangkap tangan yang jauh lebih besar
dan kuat daripada miliknya sehingga dia tidak
bisa melakukan apa-apa.
Wanita ini mengerikan sekali, pikir Polly.
Dia cukup kuat untuk mematahkan lenganku
hanya dengan satu puntiran. Dan sekarang
karena dia mencengkeram tangan kiriku, aku
tidak bisa mengambil cincin kuning. Kalau
aku berusaha menjulurkan tangan kananku ke
saku kiriku, aku mungkin bakal bisa meraihnya
sebelum dia menanyakan apa yang sedang kulakukan.
Apa pun yang terjadi kami tidak
boleh membiarkan dia tahu soal cincin-cincin
ini. Kuharap Digory masih berakal sehat dan
mampu menutup mulut. Kalau saja aku bisa
berbicara hanya berdua dengannya.
Sang ratu membimbing mereka keluar dari
Aula Sosok menuju koridor panjang kemudian
melalui labirin aula-aula lain, tangga-tangga,
dan lapangan. Lagi-lagi mereka mendengar
suatu bagian istana besar itu runtuh, terkadang
cukup dekat dengan mereka. Pernah sekali,
area besar roboh bersamaan bunyi keras hanya
beberapa saat setelah mereka berjalan melaluinya.
Sang ratu berjalan cepat—kedua anak itu
harus berlari kecil supaya bisa menyamai langkahnya—
tapi dia tidak menunjukkan tandatanda
ketakutan. Digory berpikir, dia berani
sekali. Juga kuat. Ini dia yang namanya ratu!
Mudah-mudahan dia mau menceritakan kisah
rempat ini.
Sang ratu memang memberitahu mereka beberapa
hal saat mereka berjalan:
"Itu pintu menuju penjara bawah tanah,"
dia akan berkata, atau "Jalan itu menuju
ruang-ruang utama penyiksaan", atau "Di sini
dulu aula jamuan pesta tempat kakek buyutku
menjamu tujuh ratus bangsawan untuk berpesta
pora kemudian membunuh mereka semua sebelum
mereka menghabiskan minuman mereka.
Mereka memiliki pikiran-pikiran memberontak."
Akhirnya mereka sampai ke suatu aula yang
lebih besar dan lengang daripada yang pernah
mereka lihat sebelumnya. Dari ukuran dan
bentuk pintu-pintu besar di ujung jauhnya,
Digory berpikir akhirnya mereka telah sampai
di pintu masuk utama. Dalam kasus ini dia
benar. Pintu-pintu itu berwarna hitam kelam,
mungkin terbuat dari kayu ebony atau semacam
logam hitam yang tidak ditemukan di dunia
kita. Pintu-pintu tersebut dipasung dengan
palang-palang besar, yang sebagian besarnya
terlalu tinggi untuk diraih dan terlalu berat
untuk diangkat. Digory bertanya-tanya bagaimana
caranya mereka akan keluar.
Sang ratu melepaskan pegangannya dan
mengangkat lengan. Dia menegakkan badan
dan berdiri bergeming. Kemudian dia mengatakan
sesuatu yang tidak bisa dimengerti kedua
anak itu (yang pasti kedengarannya mengerikan)
dan bergerak seolah melemparkan sesuatu ke
pintu-pintu itu. Lalu kedua daun pintu yang
tinggi dan berat itu bergetar beberapa detik
seolah keduanya terbuat dari sutra, kemudian
luluh lantak hingga tidak tersisa apa pun kecuali
tumpukan debu di ambang pintu.
"Fiuh!" siul Digory.
"Apakah majikan penyihirmu, pamanmu, punya
kekuatan sepertiku?" tanya sang ratu, dia
mencengkeram keras tangan Digory lagi. "Tapi
aku akan tahu sendiri nanti. Sementara itu,
ingatlah apa yang telah kaulihat. Inilah yang
terjadi pada benda-benda, juga orang-orang,
yang menghalangi kehendakku."
Cahaya yang jauh lebih terang daripada yang
telah kedua anak itu lihat di negeri ini kini
meruah melalui lubang pintu yang terbuka
lebar, lalu ketika sang ratu membimbing mereka
melewatinya mereka tidak terkejut ketika mendapati
diri mereka berada di udara terbuka.
Angin yang menerpa wajah mereka terasa dingin,
tapi entah kenapa lembap dan tidak
segar. Mereka kini berada di teras tinggi, di
bawah mereka terbentang daratan luas.
Rendah di bawah dan di dekat horison,
bergantung matahari merah besar, lebih besar
daripada matahari kita. Digory langsung merasa
matahari itu juga berusia lebih tua daripada
matahari kita: matahari yang mendekati ajal,
lelah menatap dunia di bawahnya. Di sebelah
kiri matahari itu, lebih tinggi di atas, tampak
sebuah bintang, besar dan bersinar terang.
Hanya dua benda itu yang terlihat di langit
kelam, keduanya membentuk kelompok muram.
Dan di bumi, di setiap arah, sejauh mata bisa
memandang, terbentang kota luas tempat tidak
terlihat satu pun makhluk hidup di dalamnya.
Dan semua kuil, menara, istana, piramid, juga
jembatan menciptakan bayangan-bayangan panjang
yang tampak mengancam di bawah sinar
matahari yang melemah itu. Sebuah sungai
besar pernah mengalir menembus kota tersebut,
tapi airnya telah lama mengering, dan kini
yang tersisa tinggal selokan lebar abu-abu berdebu.
"Pandanglah baik-baik pemandangan yang
tidak akan pernah dilihat mata mana pun
lagi," kata sang ratu. "Begitulah Charn, kota
menakjubkan, kota Raja di antara para Raja,
keajaiban dunia, mungkin keajaiban semua dunia.
Apakah pamanmu memerintah kota sehebat
ini, Nak?"
"Tidak," kata Digory. Dia baru berniat menjelaskan
Paman Andrew tidaklah memerintah
kota apa pun, tapi sang ratu sudah melanjutkan:
"Kota ini sunyi sekarang. Tapi aku telah
berdiri di sini ketika seluruh udara dipenuhi
suara Charn. Entakan langkah kaki, derak
roda, lecutan pecut, dan erangan para budak,
gemuruh kereta kuda, dan gendang-gendang
pengorbanan ditabuh di kuil-kuil. Aku telah
berdiri di sini (tapi saat itu akhir sudah begitu
dekat) ketika pekikan perang terdengar dari
setiap jalan dan air yang mengalir di Sungai
Charn berwarna merah." Dia berhenti sejenak
lalu menambahkan, "Dalam satu detik, semua
itu telah dihapus oleh seorang wanita untuk
selama-lamanya."
"Siapa?" tanya Digory dengan suara pelan,
tapi dia telah menebak jawabannya.
"Aku," jawab sang ratu. "Aku, Jadis si ratu
terakhir, juga ratu seluruh dunia."
Kedua anak itu berdiri dalam diam, tubuh
mereka gemetar dalam angin dingin.
"Semua karena salah saudariku," kata sang
ratu. "Dia yang membuatku melakukan itu.
Semoga kutukan segala Kekuatan mengikatnya
selamanya! Aku sudah siap berdamai kapan
saja—ya, juga untuk mengampuni jiwanya, kalau
saja dia membiarkan takhta menjadi milikku.
Tapi tidak. Keangkuhannya telah menghancurkan
seluruh dunia. Bahkan setelah perang
dimulai, ada perjanjian sah bahwa tidak ada
pihak yang boleh menggunakan Sihir. Tapi
ketika dia melanggar janjinya itu, apa lagi
yang bisa kulakukan? Bodoh! Seolah dia tidak
tahu aku punya lebih banyak Sihir daripada
dirinya! Dia bahkan tahu aku memiliki rahasia
Kata Kemalangan. Apakah dia pikir—tapi dia
memang selalu jadi yang terlemah di antara
kami—aku tidak akan menggunakannya?"
"Apa itu?" tanya Digory.
"Rahasia di antara semua rahasia," kata
Ratu Jadis. "Telah lama menjadi pengetahuan
semua raja besar ras kami bahwa ada kata
yang, kalau diucapkan dengan upacara layak,
bisa menghancurkan seluruh makhluk hidup
kecuali orang yang mengucapkannya. Tapi para
raja zaman dahulu lemah dan berhati lembek.
Mereka mengikat diri mereka sendiri dan semua
orang yang mendatangi mereka, dengan sumpah
besar untuk tidak akan pernah bahkan berusaha
mencari pengetahuan tentang kata itu.
Tapi aku telah mempelajarinya di tempat rahasia
dan membayar harga mahal untuk mempelajarinya.
Aku tidak menggunakannya hingga
saudaraiku memaksaku. Aku bertempur untuk
mengatasinya dengan berbagai cara lain.
Aku menumpahkan darah pasukanku seperti
air—"
"Monster!" gumam Polly.
"Pertempuran besar terakhir," kata sang ratu,
"pecah selama tiga hari di Charn ini. Selama
tiga hari aku memandang ke bawah, mengawasinya
dari tempat ini. Aku tidak menggunakan
kekuatanku hingga prajurit terakhirku terjatuh,
lalu wanita terkutuk itu, saudariku, berjalan
di depan para pemberontaknya dan sudah
setengah jalan menaiki tangga-tangga besar
yang menghubungkan kota dengan teras ini.
Kemudian aku menunggu hingga kami begitu
dekat supaya kami bisa menatap wajah satu
sama lain. Dia membinarkan mata kejamnya
yang mengerikan saat memandangku dan berkata,
'Kemenangan.' 'Ya,' aku berkata, 'Kemenangan,
tapi bukan kemenanganmu.' Kemudian
aku mengucapkan Kata Kemalangan. Sedetik
kemudian aku adalah makhluk hidup terakhir
di bawah matahari."
"Tapi bagaimana dengan orang-orang lain?"
Digory terperangah.
"Orang-orang lain apa, Nak?" tanya sang
ratu.
"Semua rakyat biasa," kata Polly, "orangorang
yang tidak pernah melukaimu. Dan semua
wanita, anak-anak, juga hewan-hewan."
"Tidakkah kau mengerti?" tanya sang ratu
(masih berbicara pada Digory). "Aku adalah
ratu. Mereka semua rakyatku. Untuk apa lagi
mereka ada kalau bukan untuk melaksanakan
kemauanku?"
"Tetap saja malang benar nasib mereka,"
kata Digory.
"Aku lupa kau hanyalah anak biasa. Bagaimana
mungkin kau mengerti logika sebuah
Negeri? Kau harus belajar, Nak, bahwa apa
yang mungkin salah bagimu dan rakyat biasa
lainnya tidaklah salah bagi ratu besar seperti
diriku. Beban dunia berada di bahu kami.
Kami harus dibebaskan dari segala peraturan.
Jalan nasib kami tinggi dan sepi."
Digory mendadak teringat Paman Andrew
pernah menggunakan kata-kata yang persis
sama. Tapi kata-kata itu terdengar lebih anggun
ketika Ratu Jadis yang mengucapkannya, mungkin
karena Paman Andrew tidaklah setinggi
210 sentimeter dan cantik memesona.
"Kemudian apa yang kaulakukan setelahnya?"
kata Digory.
"Aku telah memasang mantra-mantra kuat
di aula tempat patung-patung leluhurku duduk.
Dan kekuatan mantra-mantra itu akan membuatku
tertidur bersama mereka, juga seperti
patung dan tidak membutuhkan makanan maupun
api, walaupun untuk ribuan tahun lamanya,
sampai seseorang datang, memukul bel,
dan membangunkanku."
"Apakah Kata Kemalangan yang menjadikan
matahari begitu?" tanya Digory.
"Seperti apa?" kata Jadis.
"Begitu besar, begitu merah, dan begitu dingin."
"Sejak dulu selalu begitu," kata Jadis. "Setidaknya,
selama ratusan ribu tahun. Apakah
duniamu memiliki jenis matahari yang berbeda?"
"Ya, matahari kami lebih kecil dan kuning.
Juga memberi lebih banyak panas."
Sang ratu mengeluarkan suara panjang. "A-aah!"
Dan di wajahnya Digory melihat ekspresi
lapar dan serakah yang sama dengan yang
pernah dilihatnya pada wajah Paman Andrew.
"Jadi," katanya, "duniamu dunia yang lebih
muda."
Dia berhenti sejenak untuk melihat sekali
lagi kota terlantar itu—kalaupun dia merasakan
penyesalan atas segala kejahatan yang telah
dilakukannya di sana, dia tidak menunjukkannya
sama sekali—kemudian berkata:
"Nah, ayo kita berangkat. Dingin di sini di
akhir segala zaman."
"Berangkat ke mana?" tanya kedua anak
itu.
"Ke mana?" ulang Jadis terkejut. "Tentu
saja ke duniamu."
Polly dan Digory bersitatap, terpaku ketakutan.
Sejak awal Polly sudah tidak menyukai
sang ratu, dan bahkan Digory, kini setelah dia
mendengar ceritanya, merasa telah cukup men
dengar tentang wanita itu. Jelas sekali, dia
bukanlah sejenis orang yang ingin kita ajak
pulang. Dan kalaupun mereka menyukainya,
mereka tidak tahu bagaimana caranya. Mereka
sendiri ingin pergi dari sana, tapi Polly tidak
bisa meraih cincinnya dan tentu saja Digory
tidak bisa pergi tanpanya. Wajah Digory menjadi
merah sekali dan dia berkata dengan terbata-
bata.
"Oh—oh—dunia kami. Aku ti-tidak raenyangka
kau mau pergi ke sana."
"Untuk apa lagi kau dikirim ke sini kalau
bukan untuk menjemputku?" tanya Jadis.
"Aku yakin kau tidak akan menyukai dunia
kami sama sekali," kata Digory. "Bukan tempat
yang pantas untukmu, ya kan, Polly? Membosankan
sekali di sana, benar-benar tidak
pantas untuk dilihat."
"Tak lama lagi pasti akan jadi pantas dilihat
begitu aku memerintahnya," jawab sang ratu.
"Oh, tapi kau tidak bisa melakukan itu,"
kata Digory. "Keadaannya berbeda. Mereka
tidak akan membiarkanmu."
Di wajah sang ratu terkembang senyum meremehkan.
"Banyak raja hebat," katanya, "berpikir
mereka bisa bertahan melawan Kerajaan
Charn. Tapi mereka semua terjatuh dan nama
mereka dilupakan. Bocah bodoh! Apakah kaupikir
aku, dengan kecantikan dan Sihir-ku,
tidak akan memiliki seluruh duniamu di bawah
kakiku sebelum satu tahun berlalu? Siapkan
mantramu dan segera bawa aku ke sana."
"Ini mengerikan sekali," kata Digory ke
Polly.
"Mungkin kau mengkhawatirkan pamanmu,"
kata Jadis. "Tapi kalau dia menghormatiku
dengan tulus, dia diperkenankan menyimpan
nyawa dan takhtanya. Aku tidak datang untuk
berperang melawannya. Dia pasti penyihir besar
karena telah menemukan cara mengirimmu ke
sini. Apakah dia raja seluruh duniamu atau
hanya sebagian?"
"Dia bukan raja daerah mana pun," jawab
Digory.
"Kau berbohong," kata sang ratu. "Bukankah
Sihir selalu diturunkan lewat darah bangsawan?
Siapa yang pernah mendengar rakyat
biasa menjadi penyihir? Aku bisa melihat kebenaran
biarpun tidak kauucapkan. Pamanmu
adalah raja besar dan ahli sihir terhebat di
duniamu. Dan dengan kemampuannya dia telah
melihat bayangan wajahku, pada semacam cermin
ajaib atau mata air bertuah. Lalu karena
kekagumannya akan kecantikanku dia telah
membuat mantra kuat yang mengguncang
duniamu hingga ke akarnya, mengirimmu melewati
padang pasir luas di antara dunia dan
dunia untuk meminangku, membawaku ke hadapannya.
Jawablah: bukankah begitu kejadiannya?"
"Yah, tidak juga sih," jawab Digory.
"Tidak juga?" teriak Polly. "Semua itu benarbenar
omong kosong sejak awal sampai akhir."
"Makhluk rendah!" teriak sang ratu, menoleh
penuh kemarahan ke arah Polly dan menjambak
rambutnya, di bagian paling atas kepalanya,
di tempat yang paling menyakitkan. Tapi
dengan melakukan itu dia melepaskan kedua
tangan Digory dan Polly. "Sekarang," teriak
Digory, dan "Cepat!" teriak Polly. Mereka
membenamkan tangan kiri mereka ke saku.
Mereka bahkan tidak perlu mengenakan cincincincin
itu. Di detik mereka menyentuh cincin,
keseluruhan dunia suram itu lenyap dari penglihatan
mereka. Mereka kini bergerak naik
dengan cepat dan cahaya hijau hangat semakin
mendekat di atas mereka.
BAB 4 Bel dan Palu
SIHIR kali ini tidak perlu diragukan lagi.
Ke bawah dan terus ke bawah mereka
berkelebat pergi, pertama melalui kegelapan
kemudian melewati kumpulan sosok samar yang
berputar-putar, yang bisa jadi apa saja. Lalu
situasi menjadi lebih terang. Kemudian mendadak
mereka berdiri di atas sesuatu yang padat.
Sesaat kemudian segalanya jadi lebih fokus dan
mereka mampu melihat ke atas mereka.
"Tempat ini aneh sekali!" kata Digory.
"Aku tidak menyukainya," kata Polly, sambil
agak merinding.
Yang pertama kali mereka sadari adalah
cahaya. Tidak seperti sinar mentari, tapi juga
tidak seperti cahaya listrik, lampu, lilin, atau
sumber cahaya apa pun yang pernah mereka
lihat. Cahayanya samar, agak kemerahan, sama
Ke bawah dan terus ke bawah mereka
berkelebat pergi, pertama melalui kegelapan
kemudian melewati kumpulan sosok samar yang
berputar-putar, yang bisa jadi apa saja. Lalu
situasi menjadi lebih terang. Kemudian mendadak
mereka berdiri di atas sesuatu yang padat.
Sesaat kemudian segalanya jadi lebih fokus dan
mereka mampu melihat ke atas mereka.
"Tempat ini aneh sekali!" kata Digory.
"Aku tidak menyukainya," kata Polly, sambil
agak merinding.
Yang pertama kali mereka sadari adalah
cahaya. Tidak seperti sinar mentari, tapi juga
tidak seperti cahaya listrik, lampu, lilin, atau
sumber cahaya apa pun yang pernah mereka
lihat. Cahayanya samar, agak kemerahan, sama
sekali tidak cerah. Cahaya itu terangnya pasti
dan tidak meredup. Mereka sedang berdiri di
permukaan datar berlapis bebatuan dan gedunggedung
berdiri di sekeliling mereka. Tidak ada
atap di atas mereka, mereka berada di semacam
halaman. Langit gelap secara tidak wajar—
biru yang nyaris hitam. Kalau kau melihat
langit itu kau akan bertanya-tanya apakah
memang benar ada cahaya di sana.
"Cuaca tempat ini aneh sekali ya," kata
Digory. "Atau mungkin kita tiba tepat pada
saat akan datang badai petir, atau gerhana."
"Aku tidak menyukainya," kata Polly.
Keduanya, tanpa tahu pasti kenapa, berbicara
dengan berbisik. Dan walaupun tidak ada
alasan kenapa mereka masih terus bergandengan
setelah melompat, mereka tidak saling
melepaskan tangan.
Dinding-dinding gedung menjulang sangat
tinggi di sekeliling halaman. Dinding-dinding
itu juga memiliki banyak jendela, jendela-jendela
tanpa kaca, melaluinya kau tidak bisa melihat
apa pun kecuali kegelapan hitam. Di bagian
bawah dinding ada area-area berpilar besar,
menganga lebar menampilkan lubang hitam
besar seperti mulut terowongan kereta api.
Suasana jadi terasa agak dingin.
Batu yang digunakan untuk membangun se-
gala hal sepertinya merah, tapi mungkin itu
hanya karena cahaya misterius yang menerangi
tempat tersebut. Yang pasti rasanya aneh sekali.
Banyak di antara bebatuan datar yang melapisi
permukaan halaman, retak hingga terbelah. Tidak
satu pun menempel rapat satu sama lain
dan sudut-sudut tajamnya telah cacat semua.
Salah satu pintu yang diapit area setengahnya
tertutupi reruntuhan. Kedua anak itu terusmenerus
membalikkan tubuh untuk melihat ke
sudut-sudut berbeda di halaman. Salah satu
alasannya adalah karena mereka khawatir seseorang—
atau sesuatu—sedang mengawasi mereka
dari jendela-jendela ketika mereka menghadap
ke depan.
"Menurutmu ada yang tinggal di sini, tidak?"
tanya Digory akhirnya, masih dengan berbisik.
"Tidak," jawab Polly. "Semua ini hanya
reruntuhan. Kita belum mendengar suara apa
pun sejak datang ke sini."
"Ayo kita coba berdiri diam sebentar dan
menajamkan pendengaran," saran Digory.
Mereka berdiri diam dan mendengarkan, tapi
satu-satunya yang mereka dengar hanyalah detakan
jantung mereka sendiri. Tempat ini setidaknya
sesunyi Hutan di Antara Dunia-dunia.
Tapi sepinya berbeda. Kesunyian di hutan terasa
kaya, hangat (kau nyaris bisa mendengar pepohonan
bertumbuh), dan penuh kehidupan.
Kali ini yang terasa kesunyian yang mati, dingin,
dan hampa. Kau tidak bisa membayangkan
apa pun tumbuh di tempat ini.
"Ayo pulang," kata Polly.
"Tapi kita belum melihat apa pun," kata
Digory. "Berhubung kita sudah sampai di sini,
setidaknya kita harus melihat-lihat."
"Aku yakin sama sekali tidak ada yang
menarik di sini."
"Tidak ada gunanya menemukan cincin ajaib
yang bisa membawamu ke dunia lain kalau
kau takut menjelajahi dunia-dunia itii begitu
sudah sampai di sana."
"Siapa yang bilang aku takut?" kata Polly,
melepaskan tangan Digory.
"Aku hanya mengira kau tampak kurang
berminat menjelajahi tempat ini."
"Aku akan pergi ke mana pun kau mau
pergi."
"Kita bisa pergi dari sini kapan pun kita
mau," kata Digory. "Ayo kita lepas cincin
hijau kita dan menyimpannya di saku kanan.
Yang perlu kita lakukan hanyalah mengingat
bahwa cincin kuning kita ada di saku kiri.
Kau bisa meletakkan tangan sedekat yang kauinginkan
dengan saku-saku itu, tapi jangan
kaumasukkan tanganmu ke saku karena kau
bisa saja menyentuhnya dan lenyap."
Mereka melakukan itu dan berjalan tanpa
suara menuju salah satu gerbang lengkung besar
yang membawa mereka ke dalam salah satu
gedung. Lalu ketika berdiri di depan pintu
dan bisa melihat ke dalam, mereka melihat
bagian dalam gedung itu tidaklah terlalu gelap
seperti dugaan awal mereka. Pintu itu memperlihatkan
ruang depan berbayang-bayang yang
tampaknya kosong, tapi di sisi ruang depan
yang lebih jauh tampak sederetan pilar dengan
lengkungan di bagian atas tiap dua pilar. Di
balik lengkungan tersebut mengalir lebih banyak
cahaya temaram aneh yang sama. Mereka menyeberangi
ruang depan tersebut, berjalan dengan
sangat hati-hati karena khawatir ada
lubang-lubang di lantai atau apa pun yang
mungkin tergeletak di sana yang bisa membuat
mereka tersandung. Perjalanan itu rasanya lama
sekali. Ketika mencapai sisi lain ruang itu,
mereka melewati pilar-pilar dan mendapati diri
mereka berada di halaman lain yang lebih
luas.
"Sepertinya tempat itu tidak terlalu aman,"
kata Polly sambil menunjuk ke suatu tempat
di mana dindingnya condong ke depan dan
tampak siap runtuh ke halaman. Di satu tempat
ada pilar yang hilang di antara dua lengkungan
dan bagian yang seharusnya berada di bagian
atas pilar, hanya bergantung di sana tanpa disangga apa pun. Tampak jelas, kota itu telah
diterlantarkan selama ratusan, bahkan mungkin
ribuan, tahun.
"Kalau tempat ini bertahan hingga saat ini,
kurasa akan bisa bertahan lebih lama lagi,"
kata Digory. "Tapi kita harus benar-benar bergerak
tanpa suara. Kau tahu bukan terkadang
suara pelan sekalipun bisa membuat segalanya
runtuh—seperti salju longsor di Pegunungan
Alpen."
Mereka keluar dari halaman itu menuju gerbang
lain, menaiki tangga besar nan tinggi,
dan melalui ruang-ruang luas yang terbuka
menuju ruang-ruang lain sampai kau merasa
pusing hanya karena ukuran tempat itu. Sesekali
mereka mengira bakal keluar ke tempat
terbuka dan melihat dataran macam apa yang
mengelilingi istana besar itu. Tapi setiap kali
berjalan, mereka hanya mencapai halaman lain.
Istana ini pastinya merupakan tempat yang
luar biasa saat penduduknya masih tinggal di
sini. Di salah satu sisi ada patung yang dulu
adalah air mancur. Monster batu besar dengan
sayap terentang lebar berdiri dengan mulut
terbuka dan kau bisa melihat pipa kecil di
bagian belakang mulutnya, dari sanalah dulu
air keluar. Di bawah patung itu ada mangkuk
batu lebar untuk menadahi airnya, tapi kini
mangkuk itu kering bagaikan padang pasir.
Di tempat-tempat lain ada batang-batang
kering sejenis tanaman rambat yang telah tumbuh
mengelilingi pilar-pilar dan membuat sebagian
pilar tersebut runtuh. Tapi tanaman itu
sudah lama mati. Dan tidak ada semut, labahlabah,
atau makhluk hidup lain yang kaupikir
bisa kautemui di antara reruntuhan. Tanah
kering yang terdapat di antara batu lantaibatu
lantai pun tidak ditumbuhi rumput atau
lumut.
Keadaan di tempat itu begitu mati di seluruh
sudutnya hingga bahkan Digory pun mulai
berpikir sebaiknya mereka segera mengenakan
cincin kuning dan kembali ke hutan hidup
yang hangat dan hijau di tempat antara. Pada
saat itulah mereka menemukan dua daun pintu
raksasa yang terbuat dari sejenis logam yang
mungkin saja emas. Salah satu daun pintu itu
sedikit terbuka. Jadi tentu saja mereka masuk
untuk melihat ke dalam. Keduanya terkejut
dan menarik napas panjang: karena di sinilah
akhirnya ada sesuatu yang pantas dilihat.
Selama beberapa saat mereka berpikir
ruangan tersebut dipenuhi orang—ratusan
orang, semuanya sedang duduk, dan semuanya
bergeming. Polly dan Digory juga, seperti yang
bisa kautebak, berdiri tanpa bergerak cukup
lama karena melihat pemandangan di depan
mereka. Tapi akhirnya mereka memutuskan
yang sedang mereka pandangi tidaklah mungkin
orang sungguhan. Tidak ada gerakan maupun
suara embusan napas di antara mereka semua.
Orang-orang itu seperti patung lilin terhebat
yang pernah kaulihat.
Kali ini Polly yang berjalan duluan. Ada
sesuatu di ruangan ini yang menarik rasa ingin
tahunya dibanding rasa ingin tahu Digory:
semua sosok di sana mengenakan pakaian yang
menakjubkan. Kalau kau sedikit saja tertarik
pada pakaian, kau tidak akan tahan untuk
tidak melihat lebih dekat. Berkas-berkas warna
pada pakaian-pakaian ini pun membuat
ruangan itu tampak, meski tidak bisa dibilang
ceria, begitu kaya dan anggun setelah semua
debu dan kekosongan di tempat lain. Ruangan
itu juga memiliki lebih banyak jendela dan
jauh lebih terang.
Aku nyaris tidak bisa melukiskan pakaianpakaian
mereka. Sosok-sosok itu semuanya berjubah
dan mengenakan mahkota di kepala
mereka. Jubah-jubah mereka berwarna merah
tua, abu-abu keperakan, ungu tua, dan hijau
gelap. Tampak pola-pola hias, juga gambar
bunga, hewan liar ajaib, disulam di permukaan
jubah-jubah tersebut. Batu-batu berharga dalam
ukuran dan kilau menakjubkan menatap dari
mahkota-mahkota mereka, juga dari kalungkalung
yang menggantung di sekeliling leher
mereka, mengintip dari segala tempat semuanya
terpasang.
"Kenapa semua pakaian itu tidak lapuk sejak
zaman dulu?" tanya Polly.
"Sihir," bisik Digory. "Tidakkah kau bisa
merasakannya? Aku berani bertaruh seluruh
ruangan ini beku karena mantra sihir. Aku
bisa merasakannya sejak detik pertama kita
masuk."
"Satu saja pakaian ini bisa berharga ratusan
pound" komentar Polly.
Tapi Digory lebih tertarik pada wajah-wajah
mereka, dan memang semua wajah itu pantas
dipandangi. Orang-orang itu duduk di kursi
batu mereka di masing-masing sisi ruangan,
bagian tengahnya dibiarkan kosong. Kau bisa
berjalan dan memandangi wajah-wajah itu bergiliran.
"Mereka orang-orang baik, menurutku,"
ucap Digory.
Polly mengangguk. Semua wajah yang bisa
mereka lihat memang tampak baik. Baik para
pria maupun wanitanya tampak ramah dan
bijaksana, dan mereka tampaknya berasal dari
keturunan berwajah tampan. Tapi setelah anakanak
itu berjalan beberapa langkah lebih jauh
di ruangan tersebut, mereka sampai pada
wajah-wajah yang tampak agak berbeda.
Wajah-wajah di sini begitu serius. Kau akan
merasa perlu memerhatikan etiket dan sopan
santun bila bertemu orang-orang seperti itu
dalam kehidupanmu. Ketika Polly dan Digory
berjalan lebih jauh lagi, mereka mendapati diri
mereka berada di antara wajah-wajah yang
tidak mereka sukai: ini terjadi kira-kira di
tengah ruangan. Wajah-wajah itu tampak begitu
kuat, bangga, dan bahagia, tapi mereka tampak
kejam. Dan saat mereka lebih jauh berjalan,
wajah-wajah di sana tampak lebih kejam. Lebih
jauh lagi, mereka masih tampak kejam tapi
tidak lagi tampak bahagia. Wajah-wajah itu
bahkan tampak penuh keputusasaan: seolah
pemilik-pemiliknya telah melakukan hal-hal buruk
dan menderita karena hal-hal buruk. Sosok
terakhir dari deretan orang itu adalah yang
paling menarik—wanita yang pakaiannya lebih
mewah daripada yang lainnya, sangat tinggi
(tapi semua sosok dalam ruangan itu memang
lebih tinggi daripada orang-orang di dunia
kita), dengan ekspresi wajah yang begitu keras
dan penuh kebanggaan sehingga kau akan
menahan napas bila melihatnya. Namun wanita
itu juga cantik. Bertahun-tahun kemudian, saat
telah menjadi pria tua, Digory berkata dia
belum pernah melihat orang secantik wanita
itu selama hidupnya. Tapi wajar juga bila
ditambahkan bahwa Polly berkata dia tidak
melihat apa pun yang spesial pada wanita itu.
Wanita ini, seperti yang kukatakan tadi, adalah
sosok terakhir, tapi ada banyak kursi kosong
setelahnya, seolah ruangan itu telah dimaksudkan
untuk lebih banyak lagi koleksi
sosok.
"Aku ingin sekali tahu cerita di balik semua
ini," kata Digory. "Ayo kembali dan melihat
meja di tengah ruangan ini."
Benda yang berada di tengah ruangan itu
sebenarnya bukanlah meja. Benda itu pilar
kotak setinggi kira-kira semeter lebih dan di
atasnya berdiri arca emas yang digantungi bel
emas kecil. Di samping pilar itu tergeletak
palu emas kecil untuk membunyikan belnya.
"Kira-kira apa ya... Hmmm... Apa ya...,"
kata Digory.
"Sepertinya ada sesuatu yang tertulis di sini,"
kata Polly, menundukkan badan dan memandangi
salah satu pilar tersebut.
"Ya ampun, ternyata memang ada," ucap
Digory. "Tapi tentu saja kita tidak akan bisa
membacanya."
"Benarkah begitu? Aku tidak yakin," kata
Polly.
Mereka berdua memandangi tulisan itu lekatlekat,
seperti yang mungkin sudah kauduga,
huruf-huruf yang dipahat ke batu pilar itu
memang aneh. Tapi kini terjadi keajaiban besar:
karena saat mereka memandanginya, walaupun
bentuk huruf-huruf aneh itu tidak berubah,
mereka mendapati diri mereka bisa memahami
semuanya. Kalau saja Digory ingat kata-katanya
sendiri beberapa saat lalu, bahwa ini ruangan
yang tersihir, mungkin dia bakal bisa menebak
sihirnya mulai bekerja. Tapi rasa penasaran
terlalu menguasai dirinya, sehingga dia tidak
bisa memikirkan itu. Dia semakin ingin tahu
apa yang tertulis di pilar tersebut. Dan tak
lama kemudian mereka berdua pun tahu. Yang
tertulis adalah sesuatu yang kira-kira begini
bunyinya—setidaknya inilah yang bisa dicerna
walaupun puisi itu sendiri, ketika kau membacanya
di sana, lebih bagus:
Tentukan pilihan, wahai petualang asing,
Bunyikan bel, dan hadapi bahaya genting,
Atau teruslah penasaran, hingga lenyap kewarasan,
Akan apa yang bakal terjadi
bila saja kaulakukan.
"Apa ini?" seru Polly. "Kita kan tidak mau
mendapatkan bahaya apa pun."
"Ah, tapi tidakkah kau sadar tidak ada
pilihan lain?" tanya Digory. "Tidak mungkin
kita bisa menghindar sekarang. Kita bakal selalu
bertanya-tanya apa yang akan terjadi kalau
saja kita membunyikan bel ini. Aku tidak mau
pulang lalu penasaran setengah mati karena
selalu mengingatnya. Tidak perlu takut!"
"Jangan konyol begitu," kata Polly. "Memangnya
bakal ada orang yang mati karena
penasaran? Siapa yang peduli apa yang bakal
terjadi?"
"Menurutku semua orang yang sudah pergi
sejauh ini bakal terus bertanya-tanya sampai
membuatnya tidak waras. Itulah Sihir yang
menguasai tempat ini. Aku bahkan bisa merasakannya
mulai bekerja pada diriku."
"Yah, kalau aku tidak," kata Polly ketus.
"Dan aku tidak percaya kau merasakannya.
Kau hanya mengarang."
"Karena memang hanya itu yang kauketahui,"
kata Digory. "Soalnya kau perempuan.
Perempuan tidak pernah mau tahu apa
pun kecuali gosip dan meributkan orang-orang
yang bertunangan."
"Kau benar-benar mirip pamanmu waktu
berkata begitu, tahu," kata Polly.
"Kenapa kau mengubah topik pembicaraan?"
kata Digory. "Kita kan sedang membicarakan—"
"Benar-benar seperti pria dewasa!" kata Polly
dengan suara yang begitu dewasa, tapi dia
buru-buru menambahkan, dengan suara biasanya,
"Dan jangan bilang aku juga bersikap
seperti wanita, karena dengan begitu kau hanya
peniru yang payah."
"Aku bahkan tidak pernah bermimpi raemanggil
anak kecil sepertimu wanita," kata
Digory angkuh.
"Oh, jadi aku anak kecil, ya?" tanya Polly,
yang kini benar-benar marah. "Yah, kalau
begitu kau tidak perlu direpotkan dengan kehadiran
anak kecil lagi. Aku akan pergi. Aku
sudah muak dengan tempat ini. Dan aku juga
sudah muak padamu—dasar payah, sombong,
keras kepala!"
"Jangan lakukan itu!" kata Digory dengan
suara yang lebih galak daripada yang dimaksudkannya,
karena dia melihat tangan Polly
bergerak ke saku untuk mengambil cincin kuningnya.
Aku tidak bisa memaklumi apa yang
selanjutnya dia lakukan kecuali dengan mengatakan
Digory sangat menyesalinya di kemudian
hari (begitu juga begitu banyak orang
baik lainnya). Sebelum tangan Polly sampai di
sakunya, Digory mencengkeram pergelangan tangan
Polly, menahan tubuh Polly dengan punggungnya.
Lalu, sambil menghalangi lengan Polly
yang satu lagi dengan siku lainnya, Digory
membungkuk ke depan, meraih palu, dan membunyikan
bel emas itu dengan pukulan pelan
tapi pasti. Kemudian dia melepaskan Polly dan
mereka berdua terjatuh sambil saling menatap
dan terengah-engah keras. Polly mulai menangis,
bukan karena ketakutan, dan bahkan
bukan karena Digory telah menyakiti pergelangan
tangannya, tapi karena marah luar biasa.
Namun dua detik kemudian, ada sesuatu yang
menyita pikiran mereka sehingga pertengkaran
itu pun terlupakan.
Begitu dipukul bel itu mengeluarkan nada,
nada indah seperti yang mungkin sudah kauduga,
tidak terlalu keras pula. Tapi bukannya
menghilang ditelan angin, nada itu terus terdengar,
dan ketika itu terjadi bunyinya kian
mengeras. Sebelum semenit berlalu, bunyinya
kini telah menjadi dua kali lebih keras daripada
ketika kali pertama bersuara. Tak lama kemudian
suaranya kian mengeras sehingga jika
kedua anak itu berusaha berbicara (tapi mereka
tidak berniat berbicara saat ini—mereka hanya
berdiri di sana dengan mulut ternganga) mereka
tidak bakal bisa mendengar satu pun ucapan
mereka. Beberapa saat kemudian bunyinya sudah
menjadi begitu keras sehingga mereka tidak
bakal bisa mendengar satu sama lain bahkan
kalaupun mereka berteriak. Dan suaranya terus
saja mengeras: semua dalam satu nada, suara
indah yang tak berakhir, walaupun ada sesesuatu
yang mengerikan dalam keindahan itu,
hingga semua udara dalam ruangan besar itu
seolah berdenyut karenanya dan mereka bisa
merasakan lantai batu di kaki mereka bergetar.
Kemudian akhirnya suara bel itu mulai bercampur
dengan bunyi lain, suara samar mengerikan
yang awalnya terdengar seperti geraman
kereta yang datang dari kejauhan, kemudian
seperti gebrakan pohon tumbang. Mereka
mendengar sesuatu seperti benda-benda berat
berjatuhan. Akhirnya, bersamaan dengan gemuruh
yang mendadak, dan guncangan yang nyaris
membuat mereka terbang di udara, sekitar
seperempat langit-langit di salah satu ujung
ruangan mulai runtuh, bongkahan-bongkahan
batu besar berjatuhan di sekitar mereka, dan
dinding-dinding rontok. Suara bel berhenti.
Awan debu menipis dan akhirnya menghilang.
Segalanya menjadi sunyi kembali.
Tidak pernah diketahui apakah runtuhnya
langit-langit itu disebabkan Sihir, ataukah karena
suara keras tak tertahankan dari bel itu
kebetulan mencapai not yang memecah pertahanan
dinding-dinding rapuh itu.
"Nah! Kuharap kau puas sekarang," bentak
Polly.
"Yah, toh sekarang sudah berakhir," kata
Digory.
Keduanya punya pikiran yang sama, namun
belum pernah dalam seumur hidup mereka,
mereka begitu keliru.
Sabtu, 10 Desember 2011
BAB 3 Hutan di Antara Dunia-Dunia
PAMAN ANDREW dan ruang kerjanya
langsung menghilang. Kemudian selama sesaat,
segalanya menjadi seolah bertumpuk-tumpuk.
Hal selanjutnya yang Digory ketahui adalah
adanya cahaya hijau lembut yang menyinarinya
dari atas dan kegelapan di bawahnya.
Dia tidak tampak seperti sedang berdiri atau
apa pun, atau duduk, atau berbaring. Seolah
tidak ada yang menyentuhnya. "Sepertinya aku
ada di dalam air," kata Digory. "Atau di
bawah air." Pemikiran ini sempat membuatnya
takut, tapi hampir seketika dia bisa merasakan
tubuhnya naik dengan cepat. Lalu kepalanya
tiba-tiba keluar di udara dan dia mendapati
dirinya berenang ke tepian, menuju daratan
berumput lembut di pinggir suatu mata air.
Saat bangkit dia menyadari dirinya tidak
basah kuyup dan meneteskan air. Dia juga
tidak terengah-engah mencari udara seperti yang
akan diperkirakan semua orang bila habis berada
di bawah air. Pakaiannya sama sekali
kering. Dia sedang berdiri di pinggir mata air
kecil—tidak lebih dari tiga meter dari satu sisi
ke sisi lainnya—dalam suatu hutan. Pepohonan
tumbuh rapat dan berdaun lebat sehingga dia
bahkan tidak bisa mengintip langit. Semua
cahaya berwarna hijau dan menyeruak di
antara dedaunan, tapi pastinya di atas sana
ada matahari yang bersinar sangat kuat karena
sinar hijau yang dirasakannya begitu terang
dan hangat. Hutan itu hutan tersunyi yang
mungkin bisa kaubayangkan. Tidak ada
burung-burung, tidak ada serangga, tidak ada
hewan-hewan, dan tidak ada angin. Kau nyaris
bisa merasakan pepohonan tumbuh. Mata air
tempat Digory baru saja keluar ternyata bukanlah
satu-satunya mata air di sana. Ada lusinan
mata air lain—satu mata air di setiap meter
sejauh matamu bisa memandang. Kau hampir
bisa merasakan pepohonan mengisap air dengan
akar-akar mereka. Hutan itu sangat hidup.
Ketika berusaha melukiskannya nanti Digory
selalu berkata, "Tempat itu begitu kaya, sekaya
kue plum.'"
Hal teranehnya, hampir sebelum dia memandang
ke sekeliling, Digory separo lupa bagaimana
dia bisa datang ke sana. Pada suatu
titik, dia pastinya tidak memikirkan Polly, Paman
Andrew, atau bahkan ibunya. Dia sama
sekali tidak takut, bersemangat, atau penasaran.
Kalau ada yang bertanya kepadanya, "Dari
mana asalmu?" dia mungkin bakal menjawab,
"Tempat tinggalku dari dulu di sini." Seperti
itulah rasanya—seolah seseorang sudah berada
di tempat itu sejak lama dan tidak pernah
merasa bosan, walaupun tidak ada yang pernah
terjadi di sana. Seperti yang diceritakannya
lama setelah itu, "Tempat itu bukan jenis
tempat di mana banyak hal terjadi. Pepohonan
terus bertumbuh, itu saja."
Setelah lama memandangi hutan itu, Digory
menyadari ada gadis kecil berbaring telentang
di kaki pohon beberapa meter dari dirinya.
Mata gadis itu nyaris tertutup tapi tidak terpejam,
seolah dia sedang berada di antara
keadaan tidur dan bangun. Jadi Digory menatapnya
lama sekali dan tidak berkata apaapa.
Dan akhirnya gadis itu membuka mata
dan memandangi Digory lama sekali, juga tanpa
berkata apa-apa. Lalu gadis itu bicara,
dengan suara yang pelan dan lembut seperti
orang mengantuk.
"Sepertinya aku pernah bertemu denganmu
sebelumnya," katanya.
"Menurutku juga begitu," kata Digory. "Kau
sudah lama berada di sini?"
"Oh, aku selalu ada di sini," kata si gadis.
"Setidaknya—entahlah—lama sekali."
"Aku juga," ucap Digory.
"Tidak ah," kata si gadis. "Aku baru saja
melihatmu keluar dari mata air itu."
"Ya, mungkin memang begitu," kata Digory
kebingungan. "Aku lupa."
Kemudian untuk beberapa saat yang cukup
lama keduanya tidak saling bicara lagi.
"Tunggu dulu," kata si gadis tiba-tiba, "kirakira
kita memang pernah bertemu, tidak ya?
Aku punya sejenis bayangan—semacam gambaran
di kepalaku—tentang anak laki-laki dan
perempuan seperti kita—tinggal di suatu tempat
yang agak berbeda—dan melakukan berbagai
hal. Mungkin itu hanya mimpi."
"Aku juga punya mimpi yang sama, sepertinya,"
kata Digory. "Tentang anak laki-laki
dan perempuan, tinggal bersebelahan—dan sesuatu
tentang merangkak di antara kerangka
rumah. Aku ingat anak perempuan itu mukanya
kotor."
"Sepertinya ingatanmu terbalik? Dalam mimpiku
justru si anak laki-laki yang wajahnya
kotor."
"Aku tidak bisa mengingat wajah anak lelaki
itu," kata Digory kemudian menambahkan,
"Wah! Apa itu?"
"Wah! Itu kan hamster," kata si gadis kecil.
Dan memang benar—di sana ada hamster gendut,
mengendus-endus rumput. Tapi di sekeliling
perut hamster itu ada tali dan, terikat di tali
itu, cincin kuning yang bersinar terang.
"Lihat! Lihat!" teriak Digory. "Cincin itu!
Dan lihat! Kau juga mengenakan
cincin seperti
itu di jarimu. Aku
juga."
Si gadis kecil itu
kini duduk tegak, akhirnya benar-benar tertarik.
Mereka menatap satu sama lain lekat-lekat,
berusaha mengingat. Kemudian di saat yang
tepat bersamaan, si gadis berteriak, "Mr
Ketterley," dan si anak lelaki berseru, "Paman
Andrew," lalu mereka pun tahu siapa diri
mereka dan mulai mengingat keseluruhan cerita.
Setelah banyak berbincang-bincang selama beberapa
menit, akhirnya mereka mengingat
semuanya. Digory menjelaskan betapa kejamnya
tindakan Paman Andrew.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
tanya Polly. "Membawa pulang hamster ini
dan kembali ke dunia kita?"
"Tidak perlu terburu-buru," kata Digory,
sambil menguap lebar sekali.
"Kurasa harus begitu," kata Polly. "Tempat
ini terlalu sunyi. Begitu—begitu seperti mimpi.
Kau sendiri nyaris tertidur. Sekali kita menyerah
terhadap pengaruhnya kita hanya akan berbaring
dan dalam keadaan setengah tertidur
selama-lamanya."
"Tapi nyaman sekali berada di sini," kata
Digory.
"Ya, memang benar," kata Polly. "Tapi kita
harus kembali." Dia berdiri dan mulai berjalan
menghampiri si hamster dengan hati-hati. Tapi
kemudian dia berubah pikiran.
"Sebaiknya kita biarkan saja si hamster di
sini," kata Polly. "Dia tampak begitu bahagia
di tempat ini, dan pamanmu hanya akan melakukan
sesuatu yang buruk padanya kalau
kita membawanya pulang."
"Aku yakin dia akan melakukan itu," komentar
Digory. "Lihat saja caranya memperlakukan
kita. Omong-omong, bagaimana cara
kita pulang?"
"Kurasa sih, lewat mata air itu lagi."
Mereka berjalan mendekati mata air dan
berdiri berdampingan di tepinya, menunduk
menatap permukaan air yang datar. Pada permukaan
itu terlihat bayangan cabang-cabang
pohon yang hijau penuh dedaunan sehingga
tampak sangat dalam.
"Kita tidak punya perlengkapan berenang,"
kata Polly.
"Kita tidak butuh semua itu, bodoh," kata
Digory. "Kita akan menyelam ke dalamnya
dengan pakaian lengkap. Masa kau tidak ingat
airnya sama sekali tidak membasahi kita ketika
kita naik ke sini?"
"Kau bisa berenang?"
"Sedikit. Kau bagaimana?"
"Yah—tidak terlalu bisa."
"Kurasa kita tidak akan perlu berenang,"
kata Digory. "Kita kan mau pergi ke bawahnya,
ya kan?"
Tidak satu pun di antara mereka menyukai
ide melompat ke mata air itu, tapi tidak ada
yang mengatakannya. Mereka bergandengan tangan
dan berkata "Satu—Dua—Tiga—Lompat"
lalu melompat. Mereka merasakan cipratan besar
dan tentu saja mereka memejamkan mata.
Tapi ketika membuka mata lagi, mereka mendapati
diri mereka masih berdiri, bergandengan
tangan di hutan hijau, dan nyaris hanya terendam
air hingga ke mata kaki. Mata air itu
ternyata beberapa sentimeter dalamnya. Mereka
berjalan kembali ke daratan kering.
"Apa sebenarnya yang salah?" tanya Polly
dengan suara ketakutan, tapi tidaklah setakut
seperti yang kaubayangkan, karena sangatlah
sulit merasa sangat takut saat berada di hutan
itu. Tempat itu terlalu damai.
"Oh! Aku tahu," kata Digory. "Tentu saja,
ini tidak akan berhasil. Kita masih mengenakan
cincin kuning kita. Cincin-cincin ini kan untuk
perjalanan pergi. Cincin-cincin yang hijau akan
membawa kita pulang. Kita harus mengganti
cincin kita. Kau punya saku? Bagus. Simpan
cincin kuningmu di saku kiri. Aku punya dua
cincin hijau. Ini satu untukmu."
Mereka mengenakan cincin hijau dan kembali
ke mata air. Tapi sebelum mereka mencoba
melompat lagi, Digory mengeluarkan "O-ooh!"
yang panjang sekali.
"Ada apa?" tanya Polly.
"Aku baru saja mendapat ide bagus," kata
Digory. "Untuk apakah mata air-mata air lainnya?"
"Apa maksudmu?"
"Begini, kalau kita bisa kembali ke dunia
kita sendiri dengan melompat ke mata air
yang ini, bukankah berarti kita bisa pergi ke
tempat lain dengan melompat ke mata air
lain? Mungkin saja ada dunia di bawah setiap
mata air."
"Tapi bukankah kita sudah berada di Dunia
Lain, Tempat Lain, atau apalah namanya itu
yang dibicarakan Paman Andrew? Bukankah
kau bilang—"
"Ah, lupakan Paman Andrew," potong
Digory. "Kurasa dia bahkan tidak tahu apa-
apa tentang itu. Dia tidak pernah punya keberanian
untuk datang ke sini sendiri. Dia
hanya bicara tentang satu Dunia Lain. Tapi
siapa tahu ada lusinan?"
"Maksudmu, hutan ini mungkin hanya salah
satunya?"
"Tidak, menurutku hutan ini sama sekali
bukan dunia lain. Menurutku tempat ini hanyalah
semacam tempat di antaranya."
Polly tampak bingung.
"Tidakkah kau lihat?" tanya Digory. "Tidak,
dengar dulu. Pikirkan terowongan kita di bawah
papan-papan di rumah. Tempat itu kan
bukan ruangan di salah satu rumah. Bisa dibilang,
terowongan itu bahkan bukan benarbenar
bagian dari rumah-rumah. Tapi sekalinya
kau berada di terowongan, kau bisa berjalan
di dalamnya dan datang ke rumah mana pun
di deretan rumah kita. Mungkin saja hutan ini
juga sama, kan?—tempat yang bukanlah salah
satu dunia, tapi sekali kau menemukan tempat
ini kau bisa masuk ke dunia mana pun."
"Yah, kalaupun kau bisa—" Polly memulai,
tapi Digory melanjutkan seolah tidak mendengar
kata-katanya.
"Dan tentu saja itu menjelaskan segalanya,"
katanya. "Itulah sebabnya tempat ini begitu
sepi dan kita selalu merasa mengantuk. Tidak
pernah ada kejadian apa pun di sini. Seperti
di rumah. Di dalam rumah-rumahlah orangorang
berbicara, atau melakukan hal-hal, juga
tempat mereka makan. Tidak ada yang terjadi
di tempat-tempat perantara: di belakang dinding,
di atas langit-langit, atau di bawah lantai,
juga di dalam terowongan kita. Tapi ketika
kau keluar dari terowongan, kau akan mendapati
dirimu berada di rumah mana pun.
Kurasa kita bisa keluar dari tempat ini dan
menuju tempat mana pun! Kita tidak perlu
melompat ke dalam mata air yang sama dengan
yang kita lewati. Atau belum saatnya."
"Hutan di Antara Dunia-Dunia," kata Polly
menerawang. "Kedengarannya bagus juga."
"Ayo," kata Digory. "Kolam mana yang
akan kita coba?"
"Tunggu dulu," kata Polly, "Aku tidak akan
mencoba mata air baru sebelum memastikan
kita memang bisa pulang melalui mata air
yang pertama. Kita bahkan tidak yakin itu
cara yang benar."
"Benar," kata Digory sinis. "Kita akan dirangkap
Paman Andrew dan harus menyerahkan
cincin-cincin kita sebelum sempat bersenang-
senang. Tidak, terima kasih."
"Tidak bisakah kita sampai di setengah jalan
ke bawah mata air kita?" tanya Polly. "Hanya
untuk melihat cara ini benar-benar manjur.
Lalu begitu kita tahu itu berhasil, kita ganti
cincin dan kembali naik sebelum benar-benar
sampai di ruang kerja Mr Ketterly."
"Bisakah kita pergi separo jalan ke bawah?"
"Yah, cukup lama waktu yang kita perlukan
untuk naik, kurasa bakal memakan waktu sedikit
lama untuk kembali."
Digory agak sulit menyetujui rencana ini,
tapi akhirnya dia terpaksa setuju karena Polly
sama sekali menolak melakukan penjelajahan
ke dunia baru apa pun sebelum memastikan
dia bisa kembali ke dunia asalnya. Dia kuranglebih
sama beraninya dengan Digory dalam
menghadapi beberapa bahaya (tawon, misalnya),
tapi Polly tidaklah tertarik menemukan
hal-hal yang belum pernah didengar siapa pun.
Sedangkan Digory tipe orang yang ingin mengetahui
segalanya, dan ketika tumbuh dewasa
dia menjadi Profesor Kirke yang terkenal yang
akan muncul di buku-buku lain.
Setelah cukup lama berdebat, mereka sependapat
untuk mengenakan cincin hijau mereka
("Hijau untuk keamanan," kata Digory, "jadi
kau tidak bisa tidak mengingat cincin yang
mana untuk apa"), lalu mereka bergandengan
tangan dan melompat. Tapi segera ketika mereka
tampak akan kembali ke ruang kerja
Paman Andrew, atau bahkan dunia mereka
sendiri, Polly bertugas untuk berteriak, "Ganti"
dan mereka akan membuka cincin hijau lalu
memakai cincin kuning lagi. Digory ingin jadi
yang bertugas berteriak, "Ganti," tapi Polly
tidak juga mau setuju.
Mereka mengenakan cincin hijau, saling
menggamit tangan, dan sekali lagi berteriak
"Satu—Dua—Tiga—Lompat". Kali ini cara itu
manjur. Sangatlah sulit menceritakan pada
kalian bagaimana rasanya, karena segalanya
terjadi begitu cepat. Awalnya ada cahaya-cahaya
terang yang bergerak di langit hitam. Digory
selalu menganggap cahaya-cahaya itu bintangbintang
dan bersumpah melihat Planet Jupiter
cukup dekat—cukup dekat untuk melihat
bulannya. Tapi hampir sekaligus terlihat oleh
mereka barisan demi barisan atap dan cerobong
asap di atas, mereka juga bisa melihat St Paul
sehingga tahu mereka sedang melihat pemandangan
London. Tapi kau bisa melihat menembus
dinding-dinding semua rumah. Lalu mereka
bisa melihat Paman Andrew, sangat samar dan
berbayang-bayang, tapi semakin lama semakin
kelihatan jelas dan nyata, seolah dia kian mendekati
fokus. Tapi sebelum Paman Andrew
menjadi benar-benar nyata, Polly berteriak
"Ganti", dan mereka langsung mengganti cincin,
dunia kita pun mengabur seperti mimpi,
kemudian cahaya hijau di atas menjadi kian
terang dan terang, hingga kepala mereka keluar
dari mata air dan mereka berlari ke tepian.
Kini hutan mengelilingi mereka lagi hingga ke
atas, masih sehijau dan seterang dulu. Seluruh
proses itu hanya mengambil waktu kurang
dari satu menit.
"Nah!" kata Digory. "Sudah bisa, kan? Sekarang
mari kita bertualang. Mata air yang mana
pun boleh. Ayolah. Ayo kita coba yang satu
itu."
"Stop!" kata Polly. "Tidakkah sebaiknya kita
tandai mata air yang ini dulu?"
Mereka bertatapan dan wajah mereka berdua
memucat saat mereka menyadari hal mengerikan
yang baru saja akan Digory lakukan. Ada
begitu banyak mata air di di hutan ini, dan
semua mata air tampak serupa, begitu juga
pepohonannya. Kalau sekali saja mereka meninggalkan
mata air yang merupakan jalan
menuju dunia mereka sendiri tanpa membuat
semacam tanda, kemungkinannya seratus ban-
ding satu bagi mereka untuk menemukannya
lagi.
Tangan Digory gemetaran saat dia membuka
pisau lipatnya dan memotong sebongkah panjang
rumput di tepian mata air. Tanah hutan
itu (yang wangi sekali) berwarna cokelat kemerahan
gembur dan tampak kontras di antara
hijau rerumputan. "Untung salah satu di antara
kita berakal sehat," kata Polly.
"Yah, kau kan tidak perlu menyombongkan
diri hanya gara-gara masalah ini," kata Digory.
"Ayolah, aku ingin melihat ada apa di balik
mata air-mata air yang lain." Polly membalas
ucapan Digory dengan cukup pedas, Digory
pun mengucapkan sesuatu yang lebih ketus
lagi sebagai balasannya. Pertengkaran itu berlangsung
selama beberapa menit, tapi akan
membosankan bila ditulis semuanya. Marilah
kita langsung menuju saat ketika mereka berdiri
dengan jantung berdebar-debar dan wajah agak
ketakutan di pinggir mata air tak dikenal dengan
cincin-cincin kuning mereka. Keduanya
bergandengan dan sekali lagi berkata "Satu—
Dua—Tiga—Lompat!"
Byuurr! Sekali lagi cara ini tidak berhasil.
Mata air ini ternyata juga hanyalah sedalam
kubangan air. Bukannya mencapai dunia lain,
mereka hanya mendapati kaki mereka basah
dan mengotori tungkai kaki mereka untuk kedua
kalinya pagi itu (kalau memang saat itu
pagi: waktu tampak selalu sama di Hutan di
Antara Dunia-Dunia).
"Sial!" seru Digory. "Apa lagi yang salah
sekarang? Kita sudah mengenakan cincin kuning
kita kok. Dia bilang kuning untuk perjalanan
pergi."
Nah, sekarang diketahui ternyata Paman
Andrew, yang tidak tahu apa-apa tentang Hutan
di Antara Dunia-Dunia, punya perkiraan
yang salah tentang kegunaan cincin-cincin itu.
Cincin yang kuning bukanlah cincin "pergi"
dan cincin yang hijau bukanlah cincin "pulang",
setidaknya bukan seperti yang dipikirkannya.
Bahan-bahan yang membuat kedua
cincin itu berasal dari hutan itu. Bahan-bahan
dalam cincin kuning memiliki kekuatan untuk
menarikmu ke hutan, bahan-bahan yang ingin
kembali ke tempatnya semula, tempat di antara.
Tapi bahan dalam cincin hijau adalah bahan
yang berusaha keluar dari tempatnya semula:
jadi cincin hijau akan membawamu keluar
dari hutan ke sebuah dunia. Paman Andrew,
untuk kauketahui, sedang bereksperimen dengan
benda-benda yang sebenarnya tidak terlalu dia
mengerti, sebagian besar penyihir memang
begitu. Tentu saja Digory juga tidak terlalu
menyadari kenyataan ini, setidaknya tidak hingga
nanti. Tapi ketika mereka telah membicarakannya,
mereka memutuskan mencoba cincin
hijau mereka ke mata air baru hanya untuk
melihat apa yang akan terjadi.
"Aku mau kalau kau juga mau," kata Polly.
Tapi sebenarnya dia mengatakan ini karena di
hatinya yang paling dalam, dia kini merasa
yakin kedua cincin itu tidak akan berfungsi di
mata air baru, jadi tidak ada yang perlu lebih
ditakutinya selain cipratan air lagi. Aku tidak
terlalu yakin Digory punya perasaan yang sama.
Bagaimanapun, ketika mereka berdua telah memakai
cincin hijau, kembali ke tepian mata
air, dan bergandengan, mereka kini jauh lebih
ceria dan tidak muram daripada pada kali
pertama.
"Satu—Dua—Tiga—Lompat!" kata Digory.
Dan mereka pun melompat.
Langganan:
Komentar (Atom)
