Senin, 12 Desember 2011

BAB 4 Bel dan Palu

Diposting oleh Naillatul Fadilah Fitri di 00.33
SIHIR kali ini tidak perlu diragukan lagi.
Ke bawah dan terus ke bawah mereka
berkelebat pergi, pertama melalui kegelapan
kemudian melewati kumpulan sosok samar yang
berputar-putar, yang bisa jadi apa saja. Lalu
situasi menjadi lebih terang. Kemudian mendadak
mereka berdiri di atas sesuatu yang padat.
Sesaat kemudian segalanya jadi lebih fokus dan
mereka mampu melihat ke atas mereka.
"Tempat ini aneh sekali!" kata Digory.
"Aku tidak menyukainya," kata Polly, sambil
agak merinding.

Yang pertama kali mereka sadari adalah
cahaya. Tidak seperti sinar mentari, tapi juga
tidak seperti cahaya listrik, lampu, lilin, atau
sumber cahaya apa pun yang pernah mereka
lihat. Cahayanya samar, agak kemerahan, sama
sekali tidak cerah. Cahaya itu terangnya pasti 
dan tidak meredup. Mereka sedang berdiri di 
permukaan datar berlapis bebatuan dan gedunggedung 
berdiri di sekeliling mereka. Tidak ada 
atap di atas mereka, mereka berada di semacam 
halaman. Langit gelap secara tidak wajar— 
biru yang nyaris hitam. Kalau kau melihat 
langit itu kau akan bertanya-tanya apakah 
memang benar ada cahaya di sana. 

"Cuaca tempat ini aneh sekali ya," kata 
Digory. "Atau mungkin kita tiba tepat pada 
saat akan datang badai petir, atau gerhana." 

"Aku tidak menyukainya," kata Polly. 

Keduanya, tanpa tahu pasti kenapa, berbicara 
dengan berbisik. Dan walaupun tidak ada 
alasan kenapa mereka masih terus bergandengan 
setelah melompat, mereka tidak saling 
melepaskan tangan. 

Dinding-dinding gedung menjulang sangat 
tinggi di sekeliling halaman. Dinding-dinding 
itu juga memiliki banyak jendela, jendela-jendela 
tanpa kaca, melaluinya kau tidak bisa melihat 
apa pun kecuali kegelapan hitam. Di bagian 
bawah dinding ada area-area berpilar besar, 
menganga lebar menampilkan lubang hitam 
besar seperti mulut terowongan kereta api. 
Suasana jadi terasa agak dingin. 
Batu yang digunakan untuk membangun se-
gala hal sepertinya merah, tapi mungkin itu 
hanya karena cahaya misterius yang menerangi 
tempat tersebut. Yang pasti rasanya aneh sekali. 
Banyak di antara bebatuan datar yang melapisi 
permukaan halaman, retak hingga terbelah. Tidak 
satu pun menempel rapat satu sama lain 
dan sudut-sudut tajamnya telah cacat semua. 
Salah satu pintu yang diapit area setengahnya 
tertutupi reruntuhan. Kedua anak itu terusmenerus 
membalikkan tubuh untuk melihat ke 
sudut-sudut berbeda di halaman. Salah satu 
alasannya adalah karena mereka khawatir seseorang—
atau sesuatu—sedang mengawasi mereka 
dari jendela-jendela ketika mereka menghadap 
ke depan. 

"Menurutmu ada yang tinggal di sini, tidak?" 
tanya Digory akhirnya, masih dengan berbisik. 

"Tidak," jawab Polly. "Semua ini hanya 
reruntuhan. Kita belum mendengar suara apa 
pun sejak datang ke sini." 

"Ayo kita coba berdiri diam sebentar dan 
menajamkan pendengaran," saran Digory. 

Mereka berdiri diam dan mendengarkan, tapi 
satu-satunya yang mereka dengar hanyalah detakan 
jantung mereka sendiri. Tempat ini setidaknya 
sesunyi Hutan di Antara Dunia-dunia. 
Tapi sepinya berbeda. Kesunyian di hutan terasa 
kaya, hangat (kau nyaris bisa mendengar pepohonan 
bertumbuh), dan penuh kehidupan. 
Kali ini yang terasa kesunyian yang mati, dingin, 
dan hampa. Kau tidak bisa membayangkan 
apa pun tumbuh di tempat ini. 
"Ayo pulang," kata Polly. 

"Tapi kita belum melihat apa pun," kata 
Digory. "Berhubung kita sudah sampai di sini, 
setidaknya kita harus melihat-lihat." 

"Aku yakin sama sekali tidak ada yang 
menarik di sini." 

"Tidak ada gunanya menemukan cincin ajaib 
yang bisa membawamu ke dunia lain kalau 
kau takut menjelajahi dunia-dunia itii begitu 
sudah sampai di sana." 

"Siapa yang bilang aku takut?" kata Polly, 
melepaskan tangan Digory. 
"Aku hanya mengira kau tampak kurang 
berminat menjelajahi tempat ini." 
"Aku akan pergi ke mana pun kau mau 
pergi." 

"Kita bisa pergi dari sini kapan pun kita 
mau," kata Digory. "Ayo kita lepas cincin 
hijau kita dan menyimpannya di saku kanan. 
Yang perlu kita lakukan hanyalah mengingat 
bahwa cincin kuning kita ada di saku kiri. 
Kau bisa meletakkan tangan sedekat yang kauinginkan 
dengan saku-saku itu, tapi jangan 
kaumasukkan tanganmu ke saku karena kau 
bisa saja menyentuhnya dan lenyap." 

Mereka melakukan itu dan berjalan tanpa 
suara menuju salah satu gerbang lengkung besar 
yang membawa mereka ke dalam salah satu 
gedung. Lalu ketika berdiri di depan pintu 
dan bisa melihat ke dalam, mereka melihat 
bagian dalam gedung itu tidaklah terlalu gelap 
seperti dugaan awal mereka. Pintu itu memperlihatkan 
ruang depan berbayang-bayang yang 
tampaknya kosong, tapi di sisi ruang depan 
yang lebih jauh tampak sederetan pilar dengan 
lengkungan di bagian atas tiap dua pilar. Di 
balik lengkungan tersebut mengalir lebih banyak 
cahaya temaram aneh yang sama. Mereka menyeberangi 
ruang depan tersebut, berjalan dengan 
sangat hati-hati karena khawatir ada 
lubang-lubang di lantai atau apa pun yang 
mungkin tergeletak di sana yang bisa membuat 
mereka tersandung. Perjalanan itu rasanya lama 
sekali. Ketika mencapai sisi lain ruang itu, 
mereka melewati pilar-pilar dan mendapati diri 
mereka berada di halaman lain yang lebih 
luas. 

"Sepertinya tempat itu tidak terlalu aman," 
kata Polly sambil menunjuk ke suatu tempat 
di mana dindingnya condong ke depan dan 
tampak siap runtuh ke halaman. Di satu tempat 
ada pilar yang hilang di antara dua lengkungan 
dan bagian yang seharusnya berada di bagian 
atas pilar, hanya bergantung di sana tanpa disangga apa pun. Tampak jelas, kota itu telah 
diterlantarkan selama ratusan, bahkan mungkin 
ribuan, tahun. 

"Kalau tempat ini bertahan hingga saat ini, 
kurasa akan bisa bertahan lebih lama lagi," 
kata Digory. "Tapi kita harus benar-benar bergerak 
tanpa suara. Kau tahu bukan terkadang 
suara pelan sekalipun bisa membuat segalanya 
runtuh—seperti salju longsor di Pegunungan 
Alpen." 

Mereka keluar dari halaman itu menuju gerbang 
lain, menaiki tangga besar nan tinggi, 
dan melalui ruang-ruang luas yang terbuka 
menuju ruang-ruang lain sampai kau merasa 
pusing hanya karena ukuran tempat itu. Sesekali 
mereka mengira bakal keluar ke tempat 
terbuka dan melihat dataran macam apa yang 
mengelilingi istana besar itu. Tapi setiap kali 
berjalan, mereka hanya mencapai halaman lain. 
Istana ini pastinya merupakan tempat yang 
luar biasa saat penduduknya masih tinggal di 
sini. Di salah satu sisi ada patung yang dulu 
adalah air mancur. Monster batu besar dengan 
sayap terentang lebar berdiri dengan mulut 
terbuka dan kau bisa melihat pipa kecil di 
bagian belakang mulutnya, dari sanalah dulu 
air keluar. Di bawah patung itu ada mangkuk 
batu lebar untuk menadahi airnya, tapi kini 
mangkuk itu kering bagaikan padang pasir. 

Di tempat-tempat lain ada batang-batang 
kering sejenis tanaman rambat yang telah tumbuh 
mengelilingi pilar-pilar dan membuat sebagian 
pilar tersebut runtuh. Tapi tanaman itu
sudah lama mati. Dan tidak ada semut, labahlabah, 
atau makhluk hidup lain yang kaupikir 
bisa kautemui di antara reruntuhan. Tanah 
kering yang terdapat di antara batu lantaibatu 
lantai pun tidak ditumbuhi rumput atau 
lumut. 

Keadaan di tempat itu begitu mati di seluruh 
sudutnya hingga bahkan Digory pun mulai 
berpikir sebaiknya mereka segera mengenakan 
cincin kuning dan kembali ke hutan hidup 
yang hangat dan hijau di tempat antara. Pada 
saat itulah mereka menemukan dua daun pintu 
raksasa yang terbuat dari sejenis logam yang 
mungkin saja emas. Salah satu daun pintu itu 
sedikit terbuka. Jadi tentu saja mereka masuk 
untuk melihat ke dalam. Keduanya terkejut 
dan menarik napas panjang: karena di sinilah 
akhirnya ada sesuatu yang pantas dilihat. 

Selama beberapa saat mereka berpikir 
ruangan tersebut dipenuhi orang—ratusan 
orang, semuanya sedang duduk, dan semuanya 
bergeming. Polly dan Digory juga, seperti yang 
bisa kautebak, berdiri tanpa bergerak cukup 
lama karena melihat pemandangan di depan 
mereka. Tapi akhirnya mereka memutuskan 
yang sedang mereka pandangi tidaklah mungkin 
orang sungguhan. Tidak ada gerakan maupun 
suara embusan napas di antara mereka semua. 
Orang-orang itu seperti patung lilin terhebat 
yang pernah kaulihat. 

Kali ini Polly yang berjalan duluan. Ada 
sesuatu di ruangan ini yang menarik rasa ingin 
tahunya dibanding rasa ingin tahu Digory: 
semua sosok di sana mengenakan pakaian yang 
menakjubkan. Kalau kau sedikit saja tertarik 
pada pakaian, kau tidak akan tahan untuk 
tidak melihat lebih dekat. Berkas-berkas warna 
pada pakaian-pakaian ini pun membuat 
ruangan itu tampak, meski tidak bisa dibilang 
ceria, begitu kaya dan anggun setelah semua 
debu dan kekosongan di tempat lain. Ruangan 
itu juga memiliki lebih banyak jendela dan 
jauh lebih terang. 

Aku nyaris tidak bisa melukiskan pakaianpakaian 
mereka. Sosok-sosok itu semuanya berjubah 
dan mengenakan mahkota di kepala 
mereka. Jubah-jubah mereka berwarna merah 
tua, abu-abu keperakan, ungu tua, dan hijau 
gelap. Tampak pola-pola hias, juga gambar 
bunga, hewan liar ajaib, disulam di permukaan 
jubah-jubah tersebut. Batu-batu berharga dalam 
ukuran dan kilau menakjubkan menatap dari 
mahkota-mahkota mereka, juga dari kalungkalung 
yang menggantung di sekeliling leher
mereka, mengintip dari segala tempat semuanya 
terpasang. 
"Kenapa semua pakaian itu tidak lapuk sejak 
zaman dulu?" tanya Polly. 

"Sihir," bisik Digory. "Tidakkah kau bisa 
merasakannya? Aku berani bertaruh seluruh 
ruangan ini beku karena mantra sihir. Aku 
bisa merasakannya sejak detik pertama kita 
masuk." 

"Satu saja pakaian ini bisa berharga ratusan 
pound" komentar Polly. 

Tapi Digory lebih tertarik pada wajah-wajah 
mereka, dan memang semua wajah itu pantas 
dipandangi. Orang-orang itu duduk di kursi 
batu mereka di masing-masing sisi ruangan, 
bagian tengahnya dibiarkan kosong. Kau bisa 
berjalan dan memandangi wajah-wajah itu bergiliran. 
"Mereka orang-orang baik, menurutku," 
ucap Digory. 

Polly mengangguk. Semua wajah yang bisa 
mereka lihat memang tampak baik. Baik para 
pria maupun wanitanya tampak ramah dan 
bijaksana, dan mereka tampaknya berasal dari 
keturunan berwajah tampan. Tapi setelah anakanak 
itu berjalan beberapa langkah lebih jauh 
di ruangan tersebut, mereka sampai pada 
wajah-wajah yang tampak agak berbeda. 
Wajah-wajah di sini begitu serius. Kau akan 
merasa perlu memerhatikan etiket dan sopan 
santun bila bertemu orang-orang seperti itu 
dalam kehidupanmu. Ketika Polly dan Digory 
berjalan lebih jauh lagi, mereka mendapati diri 
mereka berada di antara wajah-wajah yang 
tidak mereka sukai: ini terjadi kira-kira di 
tengah ruangan. Wajah-wajah itu tampak begitu 
kuat, bangga, dan bahagia, tapi mereka tampak 
kejam. Dan saat mereka lebih jauh berjalan, 
wajah-wajah di sana tampak lebih kejam. Lebih 
jauh lagi, mereka masih tampak kejam tapi 
tidak lagi tampak bahagia. Wajah-wajah itu 
bahkan tampak penuh keputusasaan: seolah 
pemilik-pemiliknya telah melakukan hal-hal buruk 
dan menderita karena hal-hal buruk. Sosok 
terakhir dari deretan orang itu adalah yang
paling menarik—wanita yang pakaiannya lebih 
mewah daripada yang lainnya, sangat tinggi 
(tapi semua sosok dalam ruangan itu memang 
lebih tinggi daripada orang-orang di dunia 
kita), dengan ekspresi wajah yang begitu keras 
dan penuh kebanggaan sehingga kau akan 
menahan napas bila melihatnya. Namun wanita 
itu juga cantik. Bertahun-tahun kemudian, saat 
telah menjadi pria tua, Digory berkata dia 
belum pernah melihat orang secantik wanita 
itu selama hidupnya. Tapi wajar juga bila 
ditambahkan bahwa Polly berkata dia tidak 
melihat apa pun yang spesial pada wanita itu. 

Wanita ini, seperti yang kukatakan tadi, adalah 
sosok terakhir, tapi ada banyak kursi kosong 
setelahnya, seolah ruangan itu telah dimaksudkan 
untuk lebih banyak lagi koleksi 
sosok. 

"Aku ingin sekali tahu cerita di balik semua 
ini," kata Digory. "Ayo kembali dan melihat 
meja di tengah ruangan ini." 

Benda yang berada di tengah ruangan itu 
sebenarnya bukanlah meja. Benda itu pilar 
kotak setinggi kira-kira semeter lebih dan di 
atasnya berdiri arca emas yang digantungi bel 
emas kecil. Di samping pilar itu tergeletak 
palu emas kecil untuk membunyikan belnya. 
"Kira-kira apa ya... Hmmm... Apa ya...," 
kata Digory. 

"Sepertinya ada sesuatu yang tertulis di sini," 
kata Polly, menundukkan badan dan memandangi 
salah satu pilar tersebut. 

"Ya ampun, ternyata memang ada," ucap 
Digory. "Tapi tentu saja kita tidak akan bisa 
membacanya." 

"Benarkah begitu? Aku tidak yakin," kata 
Polly. 

Mereka berdua memandangi tulisan itu lekatlekat, 
seperti yang mungkin sudah kauduga, 
huruf-huruf yang dipahat ke batu pilar itu 
memang aneh. Tapi kini terjadi keajaiban besar: 
karena saat mereka memandanginya, walaupun 
bentuk huruf-huruf aneh itu tidak berubah, 
mereka mendapati diri mereka bisa memahami 
semuanya. Kalau saja Digory ingat kata-katanya 
sendiri beberapa saat lalu, bahwa ini ruangan 
yang tersihir, mungkin dia bakal bisa menebak 
sihirnya mulai bekerja. Tapi rasa penasaran 
terlalu menguasai dirinya, sehingga dia tidak 
bisa memikirkan itu. Dia semakin ingin tahu 
apa yang tertulis di pilar tersebut. Dan tak 
lama kemudian mereka berdua pun tahu. Yang 
tertulis adalah sesuatu yang kira-kira begini 
bunyinya—setidaknya inilah yang bisa dicerna 
walaupun puisi itu sendiri, ketika kau membacanya 
di sana, lebih bagus: 

Tentukan pilihan, wahai petualang asing, 

Bunyikan bel, dan hadapi bahaya genting, 

Atau teruslah penasaran, hingga lenyap kewarasan, 

Akan apa yang bakal terjadi 

bila saja kaulakukan. 

"Apa ini?" seru Polly. "Kita kan tidak mau 
mendapatkan bahaya apa pun." 

"Ah, tapi tidakkah kau sadar tidak ada 
pilihan lain?" tanya Digory. "Tidak mungkin 
kita bisa menghindar sekarang. Kita bakal selalu 
bertanya-tanya apa yang akan terjadi kalau 
saja kita membunyikan bel ini. Aku tidak mau 
pulang lalu penasaran setengah mati karena 
selalu mengingatnya. Tidak perlu takut!" 

"Jangan konyol begitu," kata Polly. "Memangnya 
bakal ada orang yang mati karena 
penasaran? Siapa yang peduli apa yang bakal 
terjadi?" 

"Menurutku semua orang yang sudah pergi 
sejauh ini bakal terus bertanya-tanya sampai 
membuatnya tidak waras. Itulah Sihir yang 
menguasai tempat ini. Aku bahkan bisa merasakannya 
mulai bekerja pada diriku." 
"Yah, kalau aku tidak," kata Polly ketus. 
"Dan aku tidak percaya kau merasakannya. 
Kau hanya mengarang." 

"Karena memang hanya itu yang kauketahui," 
kata Digory. "Soalnya kau perempuan. 
Perempuan tidak pernah mau tahu apa 
pun kecuali gosip dan meributkan orang-orang 
yang bertunangan." 

"Kau benar-benar mirip pamanmu waktu 
berkata begitu, tahu," kata Polly. 

"Kenapa kau mengubah topik pembicaraan?" 
kata Digory. "Kita kan sedang membicarakan—" 


"Benar-benar seperti pria dewasa!" kata Polly 
dengan suara yang begitu dewasa, tapi dia 
buru-buru menambahkan, dengan suara biasanya, 
"Dan jangan bilang aku juga bersikap 
seperti wanita, karena dengan begitu kau hanya 
peniru yang payah." 

"Aku bahkan tidak pernah bermimpi raemanggil 
anak kecil sepertimu wanita," kata 
Digory angkuh. 

"Oh, jadi aku anak kecil, ya?" tanya Polly, 
yang kini benar-benar marah. "Yah, kalau 
begitu kau tidak perlu direpotkan dengan kehadiran 
anak kecil lagi. Aku akan pergi. Aku 
sudah muak dengan tempat ini. Dan aku juga
sudah muak padamu—dasar payah, sombong, 
keras kepala!" 

"Jangan lakukan itu!" kata Digory dengan 
suara yang lebih galak daripada yang dimaksudkannya, 
karena dia melihat tangan Polly 
bergerak ke saku untuk mengambil cincin kuningnya. 
Aku tidak bisa memaklumi apa yang 
selanjutnya dia lakukan kecuali dengan mengatakan 
Digory sangat menyesalinya di kemudian 
hari (begitu juga begitu banyak orang 
baik lainnya). Sebelum tangan Polly sampai di 
sakunya, Digory mencengkeram pergelangan tangan 
Polly, menahan tubuh Polly dengan punggungnya. 
Lalu, sambil menghalangi lengan Polly 
yang satu lagi dengan siku lainnya, Digory 
membungkuk ke depan, meraih palu, dan membunyikan 
bel emas itu dengan pukulan pelan 
tapi pasti. Kemudian dia melepaskan Polly dan 
mereka berdua terjatuh sambil saling menatap 
dan terengah-engah keras. Polly mulai menangis, 
bukan karena ketakutan, dan bahkan 
bukan karena Digory telah menyakiti pergelangan 
tangannya, tapi karena marah luar biasa. 
Namun dua detik kemudian, ada sesuatu yang 
menyita pikiran mereka sehingga pertengkaran 
itu pun terlupakan. 

Begitu dipukul bel itu mengeluarkan nada,
nada indah seperti yang mungkin sudah kauduga, 
tidak terlalu keras pula. Tapi bukannya 
menghilang ditelan angin, nada itu terus terdengar, 
dan ketika itu terjadi bunyinya kian 
mengeras. Sebelum semenit berlalu, bunyinya 
kini telah menjadi dua kali lebih keras daripada 
ketika kali pertama bersuara. Tak lama kemudian 
suaranya kian mengeras sehingga jika 
kedua anak itu berusaha berbicara (tapi mereka 
tidak berniat berbicara saat ini—mereka hanya 
berdiri di sana dengan mulut ternganga) mereka 
tidak bakal bisa mendengar satu pun ucapan 
mereka. Beberapa saat kemudian bunyinya sudah 
menjadi begitu keras sehingga mereka tidak 
bakal bisa mendengar satu sama lain bahkan 
kalaupun mereka berteriak. Dan suaranya terus 
saja mengeras: semua dalam satu nada, suara 
indah yang tak berakhir, walaupun ada sesesuatu 
yang mengerikan dalam keindahan itu, 
hingga semua udara dalam ruangan besar itu 
seolah berdenyut karenanya dan mereka bisa 
merasakan lantai batu di kaki mereka bergetar. 
Kemudian akhirnya suara bel itu mulai bercampur 
dengan bunyi lain, suara samar mengerikan 
yang awalnya terdengar seperti geraman 
kereta yang datang dari kejauhan, kemudian 
seperti gebrakan pohon tumbang. Mereka 
mendengar sesuatu seperti benda-benda berat 
berjatuhan. Akhirnya, bersamaan dengan gemuruh 
yang mendadak, dan guncangan yang nyaris 
membuat mereka terbang di udara, sekitar 
seperempat langit-langit di salah satu ujung 
ruangan mulai runtuh, bongkahan-bongkahan 
batu besar berjatuhan di sekitar mereka, dan 
dinding-dinding rontok. Suara bel berhenti. 
Awan debu menipis dan akhirnya menghilang. 
Segalanya menjadi sunyi kembali. 

Tidak pernah diketahui apakah runtuhnya 
langit-langit itu disebabkan Sihir, ataukah karena 
suara keras tak tertahankan dari bel itu 
kebetulan mencapai not yang memecah pertahanan 
dinding-dinding rapuh itu. 

"Nah! Kuharap kau puas sekarang," bentak 
Polly. 
"Yah, toh sekarang sudah berakhir," kata 
Digory. 

Keduanya punya pikiran yang sama, namun 
belum pernah dalam seumur hidup mereka, 
mereka begitu keliru. 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Bienvenue Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting