Senin, 12 Desember 2011

BAB 5 Kata Kemalangan

Diposting oleh Naillatul Fadilah Fitri di 00.50
KEDUA anak itu berdiri berhadapan di
seberang pilar tempat bel tadi tergantung.
Benda itu masih bergetar walau tidak lagi
mengeluarkan suara apa pun. Mendadak mereka
mendengar suara pelan dari ujung ruangan
yang masih tidak rusak. Mereka menoleh secepat
kilat untuk melihat suara apakah itu.
Salah satu sosok berjubah—sosok yang duduk
paling jauh, wanita yang menurut Digory cantik
sekali—berdiri dari kursinya. Ketika dia berdiri,
mereka menyadari wanita itu lebih tinggi daripada
dugaan mereka. Dan kau bakal bisa
langsung melihat, bukan hanya dari mahkota
dan jubahnya, tapi dari kilatan mata juga
lekuk bibirnya, wanita ini ratu agung. Dia
melihat ke sekeliling ruangan dan kerusakan
yang terjadi di sana, lalu memandang kedua

anak itu, tapi kau tidak bakal bisa menebak
dari ekspresi wajahnya apa yang sedang dia
pikirkan, apakah dia sedang terkejut atau tidak.
Dia berjalan ke depan dengan langkah-langkah
panjang dan cepat.

"Siapa yang telah membangunkanku? Siapa
yang telah mematahkan mantra?"

"Kurasa akulah orangnya," kata Digory.

"Kau!" kata sang ratu, meletakkan tangannya
di bahu Digory—tangannya putih dan indah,
tapi Digory bisa merasakan tangan itu juga
sekuat penjepit besi. "Kau? Tapi kau hanyalah
anak-anak, anak biasa. Hanya dengan pandangan
sekilas, siapa pun bisa langsung tahu
kau tidak memiliki setetes pun darah bangsawan
atau kemuliaan di nadimu. Kenapa anak
sepertimu berani memasuki rumah ini?"

"Kami datang dari dunia lain, dengan Sihir,"
kata Polly, yang berpikir sudah saatnya sang
ratu menyadari kehadirannya seperti dia menyadari
keberadaan Digory.

"Apakah ini benar?" tanya sang ratu, masih
memandangi Digory dan tidak melihat bahkan
sekilas pun ke Polly.

"Ya, itu benar," jawab Digory.

Sang ratu meletakkan tangannya yang lain
di bawah dagu Digory dan mengangkatnya
supaya bisa lebih jelas melihat wajah anak
lelaki itu. Digory berusaha balas menatap, tapi
tak lama kemudian dia harus menurunkan
pandangannya. Ada sesuatu dalam mata sang
ratu yang menguasainya. Setelah sang ratu
memerhatikan wajah Digory selama lebih dari
semenit, dia melepaskan dagu Digory dan berkata:


"Kau bukan penyihir. Tiada tanda penyihir
pada dirimu. Kau pasti hanya pelayan penyihir.
Karena Sihir lainlah kau bisa sampai di sini."

"Aku ada di sini karena pamanku, Paman
Andrew," kata Digory.


Tepat pada saat itu—bukan di ruangan tem-
pat mereka berada, tapi di suatu tempat yang
sangat dekat dari sana—terdengarlah suara runtuh
pertama, kemudian suara sesuatu retak,
lalu gemuruh bebatuan rubuh, dan lantai pun
bergetar.

"Terlalu berbahaya berada di sini," kata
sang ratu. "Seluruh tempat ini akan hancur.
Kalau kita tidak keluar dari sini sekarang,
dalam hitungan menit kita akan terkubur di
dalam reruntuhannya." Dia berbicara dengan
tenang seolah hanya sedang memberitahu jam
berapa sekarang. "Ayo," dia menambahkan
kemudian menjulurkan kedua tangannya ke
Digory dan Polly. Polly, yang tidak menyukai
sang ratu dan merasa agak merajuk, tidak
akan membiarkan tangannya diraih kalau saja
dia punya pilihan lain. Tapi walaupun sang
ratu berbicara dengan nada yang tenang, gerakannya
secepat pikiran. Sebelum Polly menyadari
apa yang sedang terjadi, tangan kirinya
telah ditangkap tangan yang jauh lebih besar
dan kuat daripada miliknya sehingga dia tidak
bisa melakukan apa-apa.

Wanita ini mengerikan sekali, pikir Polly.
Dia cukup kuat untuk mematahkan lenganku
hanya dengan satu puntiran. Dan sekarang

karena dia mencengkeram tangan kiriku, aku
tidak bisa mengambil cincin kuning. Kalau
aku berusaha menjulurkan tangan kananku ke
saku kiriku, aku mungkin bakal bisa meraihnya
sebelum dia menanyakan apa yang sedang kulakukan.
Apa pun yang terjadi kami tidak
boleh membiarkan dia tahu soal cincin-cincin
ini. Kuharap Digory masih berakal sehat dan
mampu menutup mulut. Kalau saja aku bisa
berbicara hanya berdua dengannya.

Sang ratu membimbing mereka keluar dari
Aula Sosok menuju koridor panjang kemudian
melalui labirin aula-aula lain, tangga-tangga,
dan lapangan. Lagi-lagi mereka mendengar
suatu bagian istana besar itu runtuh, terkadang
cukup dekat dengan mereka. Pernah sekali,
area besar roboh bersamaan bunyi keras hanya
beberapa saat setelah mereka berjalan melaluinya.
Sang ratu berjalan cepat—kedua anak itu
harus berlari kecil supaya bisa menyamai langkahnya—
tapi dia tidak menunjukkan tandatanda
ketakutan. Digory berpikir, dia berani
sekali. Juga kuat. Ini dia yang namanya ratu!
Mudah-mudahan dia mau menceritakan kisah
rempat ini.

Sang ratu memang memberitahu mereka beberapa
hal saat mereka berjalan:
"Itu pintu menuju penjara bawah tanah," 
dia akan berkata, atau "Jalan itu menuju 
ruang-ruang utama penyiksaan", atau "Di sini 
dulu aula jamuan pesta tempat kakek buyutku 
menjamu tujuh ratus bangsawan untuk berpesta 
pora kemudian membunuh mereka semua sebelum 
mereka menghabiskan minuman mereka. 
Mereka memiliki pikiran-pikiran memberontak." 

Akhirnya mereka sampai ke suatu aula yang 
lebih besar dan lengang daripada yang pernah 
mereka lihat sebelumnya. Dari ukuran dan 
bentuk pintu-pintu besar di ujung jauhnya, 
Digory berpikir akhirnya mereka telah sampai 
di pintu masuk utama. Dalam kasus ini dia 
benar. Pintu-pintu itu berwarna hitam kelam, 
mungkin terbuat dari kayu ebony atau semacam 
logam hitam yang tidak ditemukan di dunia 
kita. Pintu-pintu tersebut dipasung dengan 
palang-palang besar, yang sebagian besarnya 
terlalu tinggi untuk diraih dan terlalu berat 
untuk diangkat. Digory bertanya-tanya bagaimana 
caranya mereka akan keluar. 

Sang ratu melepaskan pegangannya dan 
mengangkat lengan. Dia menegakkan badan 
dan berdiri bergeming. Kemudian dia mengatakan 
sesuatu yang tidak bisa dimengerti kedua 
anak itu (yang pasti kedengarannya mengerikan) 
dan bergerak seolah melemparkan sesuatu ke 
pintu-pintu itu. Lalu kedua daun pintu yang 
tinggi dan berat itu bergetar beberapa detik 
seolah keduanya terbuat dari sutra, kemudian 
luluh lantak hingga tidak tersisa apa pun kecuali 
tumpukan debu di ambang pintu. 

"Fiuh!" siul Digory. 

"Apakah majikan penyihirmu, pamanmu, punya 
kekuatan sepertiku?" tanya sang ratu, dia 
mencengkeram keras tangan Digory lagi. "Tapi 
aku akan tahu sendiri nanti. Sementara itu, 
ingatlah apa yang telah kaulihat. Inilah yang 
terjadi pada benda-benda, juga orang-orang, 
yang menghalangi kehendakku." 

Cahaya yang jauh lebih terang daripada yang 
telah kedua anak itu lihat di negeri ini kini 
meruah melalui lubang pintu yang terbuka 
lebar, lalu ketika sang ratu membimbing mereka 
melewatinya mereka tidak terkejut ketika mendapati 
diri mereka berada di udara terbuka. 
Angin yang menerpa wajah mereka terasa dingin, 
tapi entah kenapa lembap dan tidak 
segar. Mereka kini berada di teras tinggi, di 
bawah mereka terbentang daratan luas. 

Rendah di bawah dan di dekat horison, 
bergantung matahari merah besar, lebih besar 
daripada matahari kita. Digory langsung merasa 
matahari itu juga berusia lebih tua daripada 
matahari kita: matahari yang mendekati ajal, 
lelah menatap dunia di bawahnya. Di sebelah 
kiri matahari itu, lebih tinggi di atas, tampak 
sebuah bintang, besar dan bersinar terang. 
Hanya dua benda itu yang terlihat di langit 
kelam, keduanya membentuk kelompok muram. 
Dan di bumi, di setiap arah, sejauh mata bisa 
memandang, terbentang kota luas tempat tidak 
terlihat satu pun makhluk hidup di dalamnya. 
Dan semua kuil, menara, istana, piramid, juga 
jembatan menciptakan bayangan-bayangan panjang 
yang tampak mengancam di bawah sinar 
matahari yang melemah itu. Sebuah sungai 
besar pernah mengalir menembus kota tersebut, 
tapi airnya telah lama mengering, dan kini 
yang tersisa tinggal selokan lebar abu-abu berdebu. 


"Pandanglah baik-baik pemandangan yang 
tidak akan pernah dilihat mata mana pun 
lagi," kata sang ratu. "Begitulah Charn, kota 
menakjubkan, kota Raja di antara para Raja, 
keajaiban dunia, mungkin keajaiban semua dunia. 
Apakah pamanmu memerintah kota sehebat 
ini, Nak?" 

"Tidak," kata Digory. Dia baru berniat menjelaskan 
Paman Andrew tidaklah memerintah 
kota apa pun, tapi sang ratu sudah melanjutkan: 

"Kota ini sunyi sekarang. Tapi aku telah 
berdiri di sini ketika seluruh udara dipenuhi 
suara Charn. Entakan langkah kaki, derak 
roda, lecutan pecut, dan erangan para budak, 
gemuruh kereta kuda, dan gendang-gendang 
pengorbanan ditabuh di kuil-kuil. Aku telah 
berdiri di sini (tapi saat itu akhir sudah begitu 
dekat) ketika pekikan perang terdengar dari 
setiap jalan dan air yang mengalir di Sungai 
Charn berwarna merah." Dia berhenti sejenak 
lalu menambahkan, "Dalam satu detik, semua 
itu telah dihapus oleh seorang wanita untuk 
selama-lamanya." 

"Siapa?" tanya Digory dengan suara pelan, 
tapi dia telah menebak jawabannya. 
"Aku," jawab sang ratu. "Aku, Jadis si ratu 
terakhir, juga ratu seluruh dunia." 
Kedua anak itu berdiri dalam diam, tubuh 
mereka gemetar dalam angin dingin. 

"Semua karena salah saudariku," kata sang 
ratu. "Dia yang membuatku melakukan itu. 
Semoga kutukan segala Kekuatan mengikatnya 
selamanya! Aku sudah siap berdamai kapan 
saja—ya, juga untuk mengampuni jiwanya, kalau 
saja dia membiarkan takhta menjadi milikku. 
Tapi tidak. Keangkuhannya telah menghancurkan 
seluruh dunia. Bahkan setelah perang 
dimulai, ada perjanjian sah bahwa tidak ada 
pihak yang boleh menggunakan Sihir. Tapi 
ketika dia melanggar janjinya itu, apa lagi 
yang bisa kulakukan? Bodoh! Seolah dia tidak 
tahu aku punya lebih banyak Sihir daripada 
dirinya! Dia bahkan tahu aku memiliki rahasia 
Kata Kemalangan. Apakah dia pikir—tapi dia 
memang selalu jadi yang terlemah di antara 
kami—aku tidak akan menggunakannya?" 
"Apa itu?" tanya Digory. 

"Rahasia di antara semua rahasia," kata 
Ratu Jadis. "Telah lama menjadi pengetahuan 
semua raja besar ras kami bahwa ada kata 
yang, kalau diucapkan dengan upacara layak, 
bisa menghancurkan seluruh makhluk hidup 
kecuali orang yang mengucapkannya. Tapi para 
raja zaman dahulu lemah dan berhati lembek. 
Mereka mengikat diri mereka sendiri dan semua 
orang yang mendatangi mereka, dengan sumpah 
besar untuk tidak akan pernah bahkan berusaha 
mencari pengetahuan tentang kata itu. 
Tapi aku telah mempelajarinya di tempat rahasia 
dan membayar harga mahal untuk mempelajarinya. 
Aku tidak menggunakannya hingga 
saudaraiku memaksaku. Aku bertempur untuk 
mengatasinya dengan berbagai cara lain. 
Aku menumpahkan darah pasukanku seperti 
air—" 

"Monster!" gumam Polly. 

"Pertempuran besar terakhir," kata sang ratu, 
"pecah selama tiga hari di Charn ini. Selama 
tiga hari aku memandang ke bawah, mengawasinya 
dari tempat ini. Aku tidak menggunakan 
kekuatanku hingga prajurit terakhirku terjatuh, 
lalu wanita terkutuk itu, saudariku, berjalan 
di depan para pemberontaknya dan sudah 
setengah jalan menaiki tangga-tangga besar 
yang menghubungkan kota dengan teras ini. 
Kemudian aku menunggu hingga kami begitu 
dekat supaya kami bisa menatap wajah satu 
sama lain. Dia membinarkan mata kejamnya 
yang mengerikan saat memandangku dan berkata, 
'Kemenangan.' 'Ya,' aku berkata, 'Kemenangan, 
tapi bukan kemenanganmu.' Kemudian 
aku mengucapkan Kata Kemalangan. Sedetik 
kemudian aku adalah makhluk hidup terakhir 
di bawah matahari." 

"Tapi bagaimana dengan orang-orang lain?" 
Digory terperangah. 
"Orang-orang lain apa, Nak?" tanya sang 
ratu. 

"Semua rakyat biasa," kata Polly, "orangorang 
yang tidak pernah melukaimu. Dan semua 
wanita, anak-anak, juga hewan-hewan." 

"Tidakkah kau mengerti?" tanya sang ratu 
(masih berbicara pada Digory). "Aku adalah 
ratu. Mereka semua rakyatku. Untuk apa lagi 
mereka ada kalau bukan untuk melaksanakan 
kemauanku?" 

"Tetap saja malang benar nasib mereka," 
kata Digory. 
"Aku lupa kau hanyalah anak biasa. Bagaimana 
mungkin kau mengerti logika sebuah 
Negeri? Kau harus belajar, Nak, bahwa apa 
yang mungkin salah bagimu dan rakyat biasa 
lainnya tidaklah salah bagi ratu besar seperti 
diriku. Beban dunia berada di bahu kami. 
Kami harus dibebaskan dari segala peraturan. 
Jalan nasib kami tinggi dan sepi." 

Digory mendadak teringat Paman Andrew 
pernah menggunakan kata-kata yang persis 
sama. Tapi kata-kata itu terdengar lebih anggun 
ketika Ratu Jadis yang mengucapkannya, mungkin 
karena Paman Andrew tidaklah setinggi 
210 sentimeter dan cantik memesona. 

"Kemudian apa yang kaulakukan setelahnya?" 
kata Digory. 

"Aku telah memasang mantra-mantra kuat 
di aula tempat patung-patung leluhurku duduk. 
Dan kekuatan mantra-mantra itu akan membuatku 
tertidur bersama mereka, juga seperti 
patung dan tidak membutuhkan makanan maupun 
api, walaupun untuk ribuan tahun lamanya, 
sampai seseorang datang, memukul bel, 
dan membangunkanku." 

"Apakah Kata Kemalangan yang menjadikan 
matahari begitu?" tanya Digory. 

"Seperti apa?" kata Jadis. 

"Begitu besar, begitu merah, dan begitu dingin."
"Sejak dulu selalu begitu," kata Jadis. "Setidaknya, 
selama ratusan ribu tahun. Apakah 
duniamu memiliki jenis matahari yang berbeda?" 


"Ya, matahari kami lebih kecil dan kuning. 
Juga memberi lebih banyak panas." 

Sang ratu mengeluarkan suara panjang. "A-aah!" 
Dan di wajahnya Digory melihat ekspresi 
lapar dan serakah yang sama dengan yang 
pernah dilihatnya pada wajah Paman Andrew. 
"Jadi," katanya, "duniamu dunia yang lebih 
muda." 

Dia berhenti sejenak untuk melihat sekali 
lagi kota terlantar itu—kalaupun dia merasakan 
penyesalan atas segala kejahatan yang telah 
dilakukannya di sana, dia tidak menunjukkannya 
sama sekali—kemudian berkata: 

"Nah, ayo kita berangkat. Dingin di sini di 
akhir segala zaman." 
"Berangkat ke mana?" tanya kedua anak 
itu. 
"Ke mana?" ulang Jadis terkejut. "Tentu 
saja ke duniamu." 

Polly dan Digory bersitatap, terpaku ketakutan. 
Sejak awal Polly sudah tidak menyukai 
sang ratu, dan bahkan Digory, kini setelah dia 
mendengar ceritanya, merasa telah cukup men
dengar tentang wanita itu. Jelas sekali, dia 
bukanlah sejenis orang yang ingin kita ajak 
pulang. Dan kalaupun mereka menyukainya, 
mereka tidak tahu bagaimana caranya. Mereka 
sendiri ingin pergi dari sana, tapi Polly tidak 
bisa meraih cincinnya dan tentu saja Digory 
tidak bisa pergi tanpanya. Wajah Digory menjadi 
merah sekali dan dia berkata dengan terbata-
bata. 

"Oh—oh—dunia kami. Aku ti-tidak raenyangka 
kau mau pergi ke sana." 
"Untuk apa lagi kau dikirim ke sini kalau 
bukan untuk menjemputku?" tanya Jadis. 

"Aku yakin kau tidak akan menyukai dunia 
kami sama sekali," kata Digory. "Bukan tempat 
yang pantas untukmu, ya kan, Polly? Membosankan 
sekali di sana, benar-benar tidak 
pantas untuk dilihat." 

"Tak lama lagi pasti akan jadi pantas dilihat 
begitu aku memerintahnya," jawab sang ratu. 

"Oh, tapi kau tidak bisa melakukan itu," 
kata Digory. "Keadaannya berbeda. Mereka 
tidak akan membiarkanmu." 

Di wajah sang ratu terkembang senyum meremehkan. 
"Banyak raja hebat," katanya, "berpikir 
mereka bisa bertahan melawan Kerajaan 
Charn. Tapi mereka semua terjatuh dan nama
mereka dilupakan. Bocah bodoh! Apakah kaupikir 
aku, dengan kecantikan dan Sihir-ku, 
tidak akan memiliki seluruh duniamu di bawah 
kakiku sebelum satu tahun berlalu? Siapkan 
mantramu dan segera bawa aku ke sana." 

"Ini mengerikan sekali," kata Digory ke 
Polly. 

"Mungkin kau mengkhawatirkan pamanmu," 
kata Jadis. "Tapi kalau dia menghormatiku 
dengan tulus, dia diperkenankan menyimpan 
nyawa dan takhtanya. Aku tidak datang untuk 
berperang melawannya. Dia pasti penyihir besar 
karena telah menemukan cara mengirimmu ke 
sini. Apakah dia raja seluruh duniamu atau 
hanya sebagian?" 

"Dia bukan raja daerah mana pun," jawab 
Digory. 

"Kau berbohong," kata sang ratu. "Bukankah 
Sihir selalu diturunkan lewat darah bangsawan? 
Siapa yang pernah mendengar rakyat 
biasa menjadi penyihir? Aku bisa melihat kebenaran 
biarpun tidak kauucapkan. Pamanmu 
adalah raja besar dan ahli sihir terhebat di 
duniamu. Dan dengan kemampuannya dia telah 
melihat bayangan wajahku, pada semacam cermin 
ajaib atau mata air bertuah. Lalu karena 
kekagumannya akan kecantikanku dia telah 
membuat mantra kuat yang mengguncang 
duniamu hingga ke akarnya, mengirimmu melewati 
padang pasir luas di antara dunia dan 
dunia untuk meminangku, membawaku ke hadapannya. 
Jawablah: bukankah begitu kejadiannya?" 


"Yah, tidak juga sih," jawab Digory. 
"Tidak juga?" teriak Polly. "Semua itu benarbenar 
omong kosong sejak awal sampai akhir." 

"Makhluk rendah!" teriak sang ratu, menoleh 
penuh kemarahan ke arah Polly dan menjambak 
rambutnya, di bagian paling atas kepalanya, 
di tempat yang paling menyakitkan. Tapi 
dengan melakukan itu dia melepaskan kedua 
tangan Digory dan Polly. "Sekarang," teriak 
Digory, dan "Cepat!" teriak Polly. Mereka 
membenamkan tangan kiri mereka ke saku. 
Mereka bahkan tidak perlu mengenakan cincincincin 
itu. Di detik mereka menyentuh cincin, 
keseluruhan dunia suram itu lenyap dari penglihatan 
mereka. Mereka kini bergerak naik 
dengan cepat dan cahaya hijau hangat semakin 
mendekat di atas mereka. 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Bienvenue Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting